Lalu, siapa yang akan membela mereka?
Jawabannya: kita semua.
Karena narasi tak akan pernah menang hanya oleh kebenaran. Narasi menang oleh siapa yang menyuarakannya lebih keras dan konsisten. Maka, jangan biarkan narasi tentang Gaza dimonopoli oleh mereka yang punya kekuatan uang dan jaringan media global. Kita mungkin tak punya koran besar, tapi kita punya media sosial. Kita mungkin bukan jurnalis besar, tapi kita punya mata, hati, dan pena. Kita mungkin tak bisa mengubah kebijakan negara, tapi kita bisa mengubah opini masyarakat. Dan itu dimulai dari keberanian menulis dan menyuarakan kebenaran.
Menajamkan pena juga berarti mendidik dan membangkitkan nurani. Karena banyak dari saudara-saudara kita tak paham apa yang sebenarnya terjadi di Gaza. Mereka ikut-ikutan diam. Ironisnya mereka anggap ini bukan urusannya. Mereka bingung memilih sisi. Mereka tak tahu siapa korban, siapa pelaku. Dan itu karena narasi palsu telah mendominasi. Di sinilah tulisanmu, postinganmu, esaimu, puisimu, cerpenmu, dan bahkan status WhatsApp-mu bisa menjadi titik terang bagi mereka yang masih ragu.
Tulislah kisah para ibu yang kehilangan anaknya. Tulislah tentang para dokter yang mengoperasi tanpa listrik. Tulislah tentang para jurnalis lokal yang tetap merekam kenyataan walau nyawa jadi taruhan. Tulislah, karena dari tulis itu akan lahir empati. Dan dari empati akan tumbuh solidaritas.
Bagi kamu para penulis yang pandai menulis, maka tajamakanlah penamu. Bagi Kamu yang memiliki pengikut di media sosial, gunakan pengaruhmu untuk membela Gaza. Bagi kamu yang menjadi guru, sisipkan kisah Gaza dalam pelajaranmu. Bagi kamu yang seniman, lukislah duka Gaza agar abadi dalam karya. Dan setidaknya bagi kamu yang hanya punya pena dan secarik kertas, teruslah menulis. Karena sejarah membuktikan, satu tulisan bisa menjatuhkan tirani.
Gaza saat ini bukan hanya medan perang fisik. Ia adalah medan perang wacana. Dan perang ini tak bisa dimenangkan dengan diam. Ia hanya bisa dimenangkan jika semakin banyak dari kita yang menajamkan pena, dan mengarahkannya kepada musuh bersama kita: kebohongan, penjajahan, dan ketidakadilan.
Ingatlah, kelak ketika generasi mendatang bertanya kepada kita: “Apa yang kamu lakukan saat Gaza dibantai?”, semoga kita bisa menjawab: “Aku tidak diam. Aku menulis. Aku bersuara. Aku berjuang dengan penaku.”
Karena dalam dunia yang dipenuhi kebohongan, menulis kebenaran adalah revolusi.
Dan Gaza adalah medan ujian bagi pena kita.
Waha para penulis ; tajamkan penamu. Karena Gaza masih menjerit.
Dan ia menunggu siapa yang akan berjuang dengan tulisannya.
29Juni2025












