Strategi “pasir hisap” ini dinilai begitu efektif karena menyasar seluruh aspek: militer, sosial, politik, bahkan psikologis. Ia tidak hanya menghancurkan fisik musuh, tetapi juga harapan. Dan itulah yang paling berbahaya: saat musuh merasa tak ada jalan keluar, mereka berhenti mencoba.
Namun seperti semua jebakan, strategi ini pun punya kelemahan. Pasir hisap hanya efektif selama korban tidak bisa mencapai bantuan. Tapi ketika dunia mulai sadar, ketika kekuatan internasional mulai bersatu untuk melawan kezaliman, ketika narasi kebenaran mulai bangkit—maka si pembuat jebakan bisa terperosok dalam kubangan yang ia ciptakan sendiri.
Strategi Pasir Hisap kepada Iran
1. Provokasi Terselubung dan Reaksi Terukur
Israel kerap melakukan serangan diam-diam atau serangan terbatas terhadap kepentingan Iran di luar wilayahnya, terutama di Suriah, Lebanon, atau bahkan sabotase dalam negeri Iran.
Tujuannya adalah memancing reaksi, lalu membungkusnya sebagai pembenaran untuk balasan militer yang lebih besar. Jika Iran bereaksi berlebihan, maka Israel akan mendapatkan legitimasi global untuk menyerang balik. Jika Iran tidak bereaksi, maka Israel berhasil. Apapun respons Iran, itu akan dianggap sebagai langkah yang salah.
2. Penggiringan Opini Global
Melalui diplomasi dan pengaruh kuat di Barat, khususnya AS, Israel menggiring opini bahwa Iran adalah ancaman terbesar bagi stabilitas regional dan dunia. Program nuklir Iran diposisikan sebagai bom waktu, sementara fakta tentang kejahatan Israel terhadap Palestina kerap dialihkan.
Narasi ini membuat dunia fokus kepada Iran, dan lupa pada kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel setiap hari. Iran ditarik masuk ke dalam arena lumpur opini global, di mana pembelaannya sulit dipercaya, dan apapun yang ia lakukan dianggap mencurigakan.
3. Mengunci Iran dalam Lingkaran Krisis Regional
Israel mendorong ketegangan Iran dengan negara-negara Arab Sunni melalui diplomasi normalisasi (seperti Abraham Accords), menciptakan lingkungan strategis yang mengisolasi Iran. Saat Iran merasa terkepung, ia dipaksa untuk mempertahankan pengaruhnya di Lebanon (Hizbullah), Yaman (Houthi), dan Suriah—yang semuanya menjadi titik-titik lumpur konflik yang menguras sumber daya dan energi Iran.
Semakin Iran mencoba bertahan, semakin dalam ia terhisap dalam konflik yang melelahkan dan menyebar.
4. Operasi Rahasia dan Destabilisasi Internal
Israel, melalui badan intelijennya Mossad, diduga terlibat dalam sabotase nuklir, pembunuhan ilmuwan Iran, dan dukungan terhadap kelompok oposisi di dalam negeri Iran. Semua ini bertujuan menciptakan tekanan dari dalam, memancing instabilitas, serta membuat Iran tampak lemah atau brutal di mata dunia.
Jika Iran menindak tegas pemberontakan, maka ia disebut represif. Jika ia membiarkannya, maka dianggap tak mampu mengendalikan negaranya. Ini adalah taktik jebakan sempurna.
Perang saat ini, Israel kembali menggunakan pola strategi “pasir hisap” terhadap Iran. bahwa serangan awal Israel terhadap Iran yang kemudian direspons oleh Iran termasuk dalam bagian dari strategi “pasir hisap”—yaitu strategi memancing reaksi dengan tujuan menjebak lawan ke dalam konflik. Israel menggoda Iran untuk bereaksi, sekaligus menguji kekuatan dan batas kesabaran Iran.
Dengan Flying the Victim , Israel menjadi “korban” secara naratif di mata dunia internasional. Dengan balasan Iran, Israel mendapatkan legitimasi penuh untuk memperluas serangan, memprovokasi Amerika dengan sekutunya dan mengunci simpati global. Inilah yang membuat Iran bisa terhisap dalam jebakan yang sengaja disiapkan.












