• Impor luar neferi tercatat sebesar 90,52 juta USD, mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan II-2024 yang tercatat sebesar 292,22 juta USD.
*Kaitan RPJMD 2025-2029*
Dihubungi Jum’at (22/8), Associate Professor Iwan Harsono, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, mengkaitkan situasi Ekonomi NTB triwulan II-2025 dari sisi Sasaran Visi 2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB 2025-2029, yang menargetkan lonjakan PDRB per kapita dari kisaran Rp32,8 juta menjadi Rp74-81 juta.
Menurutnya, kenaikan lebih dari dua kali lipat ini menuntut pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 10 persen (riil). Sementara tren historis NTB hanya 4–5 persen, bahkan pada semester I-2025 kontraksi (-1,47 persen di triwulan I dan -0,82 persen di triwulan II).
“Target Indeks Ekonomi Biru Indonesia dari 54,53 menjadi 85,72 serta kontribusi industri pengolahan dari 3,87 persen menjadi 7,5 persen hanya mungkin tercapai jika hilirisasi garam dan udang dijalankan serius, disertai pembangunan minimal empat kawasan industri agromaritim, “ ujarnya.
Adapun, kesepakatan RPJMD NTB yang baru di sahkan minggu lalu, ternyata target pertumbuhan ekonomi NTB hingga 2029 sudah direvisi. Bukan 10 persen atau 8 persen. Tapi 6,75 persen di tahun 2029!
“Itupun sulit dicapai,” imbuh Iwan.
Untuk mendukung tercapainya target secara menyeluruh, Iwan memberi catatan lain sebagai berikut:
Pertama, Sasaran Visi 1 menetapkan peningkatan Indeks Modal Manusia dari 0,54 menjadi 0,55 pada 2029. Secara teknis, kenaikan ini realistis namun minim ambisi. Jika NTB ingin keluar dari perangkap “SDM menengah”, maka diperlukan akselerasi lewat pendidikan vokasi yang relevan dengan industri, reformasi kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan penguatan layanan kesehatan dasar.
Kedua, Sasaran Visi 3 menargetkan penurunan kemiskinan dari 11,91persen menjadi 9,40 persen dan kemiskinan ekstrem nol pada 2029. Realistis, asalkan intervensi fokus pada 106 desa kantong kemiskinan ekstrem di Lombok Utara, Lombok Timur, dan Bima. Rasio gini turun tipis dari 0,364 menjadi 0,357—kemajuan kecil yang harus dibarengi kebijakan distribusi pendapatan yang adil.
Tantangan terbesarnya ada pada target pertumbuhan ekonomi 6,75 persen, yang akan sulit dicapai tanpa lonjakan investasi produktif dan peningkatan produktivitas sektor unggulan.
Ketiga, Sasaran Visi 4 dan 5—(peningkatan Indeks Inovasi Daerah dari 63,4 menjadi 81,2, Indeks Daya Saing dari 3,4 menjadi 3,72), serta (penurunan emisi GRK dari 25,99 persen menjadi 39,77persen)—menuntut langkah nyata.
“Dibutuhkan _Center of Excellence_ riset-inovasi, _task force_ khusus implementasi proyek strategis, dan pembiayaan hijau ( _green financing_ ). Tanpa itu, target lingkungan dan inovasi hanya akan menjadi jargon,” pungkas Iwan.
*Pentingnya Indeks Modal Manusia*
Di tempat terpisah pada Sabtu (23/8), Cukup Wibowo, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Provinsi NTB, menyoroti tantangan besar yang dihadapi NTB, bagaimana mendorong sumber daya manusia (SDM) agar tidak berhenti di level “menengah”, tetapi bisa melompat menjadi SDM unggul.
“Ini erat kaitannya dengan Indeks Modal Manusia ( _Human Capital Index)_ ,” ujar Cukup.
Indeks Modal Manusia (IMM) ibarat termometer yang mengukur seberapa sehat, cerdas, dan terampil sebuah bangsa atau daerah. Sama seperti seorang atlet yang harus bugar, punya teknik, dan strategi untuk bisa juara, begitu pula sebuah daerah membutuhkan manusia yang sehat, terdidik, dan produktif agar bisa tumbuh ekonominya.
IMM biasanya diukur lewat empat komponen utama:
1. Pendidikan → Sejauh mana anak-anak NTB bisa mengenyam sekolah berkualitas.
Contoh: Apabila angka partisipasi sekolah menengah naik, maka generasi muda akan lebih siap masuk dunia kerja.












