Era digital membuat berita Gaza mudah diakses, tetapi juga cepat terkubur. Linimasa hari ini menampilkan video rumah hancur, besok langsung berganti konten challenge TikTok atau drama selebriti. Inilah dunia kita hari ini: penuh informasi, minim perhatian.
Kebiasaan scroll cepat dan konsumsi konten pendek membuat isu berat seperti Palestina kalah pamor dengan isu-isu ringan dan menghibur. Lama-lama, Gaza tidak lagi “viral”—dan itulah titik kematian narasi kemanusiaan kita.
Sikap Sinis dan Polarisasi Isu
Dalam beberapa kasus, solidaritas terhadap Palestina juga menjadi korban dari polarisasi politik dan agama. Ada kelompok yang memandang isu Palestina hanya milik kelompok Islam tertentu. Akibatnya, orang-orang yang tidak merasa terlibat dalam identitas itu menjadi pasif, atau bahkan bersikap sinis.
Padahal, penderitaan di Gaza adalah soal kemanusiaan, bukan hanya soal keyakinan. Namun ketika empati dikotak-kotakkan berdasarkan ideologi, maka kekuatan solidaritas akan lumpuh.
Kurangnya Narasi Personal
Data dan statistik korban memang penting. Tapi manusia tersentuh bukan karena angka, melainkan karena cerita. Sayangnya, banyak media hanya menyampaikan jumlah korban, bukan wajah mereka, bukan kisah mereka. Ini membuat penderitaan Gaza terasa jauh dan abstrak.
Padahal, jika kisah itu dihidupkan—tentang anak kecil yang tak lagi bisa ke sekolah, tentang ibu yang kehilangan lima anak sekaligus, tentang pemuda yang menanam zaitun di bawah ancaman peluru—maka empati bisa kembali tumbuh. Cerita manusia, bukan sekadar angka, yang menyentuh hati.
Haruskah Kita Menyerah?
Tentu tidak. Kelelahan peduli bukan alasan untuk berhenti. Justru di saat dunia lelah, suara yang tersisa menjadi sangat berarti. Mungkin kita tak bisa menghentikan perang, tapi kita bisa menjaga agar luka Gaza tidak dilupakan. Kita bisa terus menyuarakan, mendidik generasi muda, dan tetap mengulurkan tangan melalui donasi atau dukungan lainnya.
Ingatlah, perjuangan Palestina bukan hanya soal tanah dan bom. Ia adalah simbol dari perlawanan terhadap ketidakadilan global. Dan siapa pun yang masih menyimpan nurani, tak bisa menutup mata terlalu lama.
Agar Kita Tak Lelah Sepenuhnya
Agar kelelahan empati tidak menjadi kematian nurani, kita perlu merawat empati itu. Caranya:
• Konsumsi narasi yang humanis, bukan hanya angka.
• Saring dan kurasi berita, agar tidak tenggelam dalam overload informasi.
• Berjejaring dengan komunitas yang terus bergerak, agar semangat kita tak padam sendiri.
• Kuatkan kesadaran spiritual, bahwa membantu sesama adalah bagian dari ibadah.
• Ingatkan diri: Gaza adalah cermin dunia, dan diam kita bisa berarti menyetujui kejahatan.
Gaza Belum Merdeka, Maka Kita Belum Selesai
Empati kita memang bisa lelah. Tapi selama ada satu anak yang mati karena penjajahan, satu ibu yang kehilangan keluarganya karena bom, dan satu rakyat yang masih terkurung di reruntuhan blokade—maka kepedulian tak boleh padam.
Kita mungkin tak punya kekuatan politik, tapi kita punya suara, pena, dan doa. Dan selama dunia masih butuh keberpihakan, maka membela Gaza bukan pilihan emosional, melainkan panggilan moral bahkan panggilan iman.
“Jika kamu tak bisa menjadi pejuang di medan tempur, jadilah suara yang menjaga agar luka mereka tetap terdengar.”
(Refleksi untuk kita semua.)
24 Juni 2025












