KENAPA DUNIA MEMILIH DIAM TERHADAP PENDERITAAN GAZA?

KETIDAKBERDAYAAN LEMBAGA INTERNASIONAL

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga internasional lainnya, dalam banyak kasus, tampak tidak lebih dari penonton. Resolusi demi resolusi dilahirkan, namun tidak pernah diindahkan. Israel, sebagai negara yang secara rutin melanggar hukum internasional dan resolusi PBB, tidak pernah benar-benar mendapatkan sanksi serius.

Mengapa? Karena kekuatan veto yang dimiliki negara-negara seperti Amerika Serikat membuat semua upaya diplomasi tumpul sebelum sempat tajam. PBB menjadi panggung diplomasi yang tak bergigi.
Sementara itu, warga Gaza terus menanti keadilan yang tak pernah datang.

NORMALISASI KEKERASAN DI GAZA

Selama bertahun-tahun, kekerasan di Gaza terus berulang—hingga dunia terbiasa. Ketika serangan pertama kali terjadi, mungkin banyak yang terkejut.

Tapi ketika pembantaian demi pembantaian terjadi setiap beberapa tahun, masyarakat global pun mulai kebal. Mereka berhenti peduli.

Inilah bahaya terbesar: ketika penderitaan menjadi biasa, dan kematian hanya angka. Gaza tidak lagi menjadi tragedi, melainkan rutinitas. Dunia berhenti marah, berhenti berdoa, bahkan berhenti bertanya.

PERAN DUNIA ISLAM YANG MELEMAH

BACA JUGA:  Masih Ada Yang Nyinyir

Dunia Islam pun tidak luput dari kritik. Banyak negara muslim lebih sibuk dengan konflik internal dan perebutan pengaruh daripada bersatu membela Palestina.

Alih-alih menjadi pelindung, sebagian dari mereka justru menormalisasi hubungan dengan Israel atas nama diplomasi dan investasi.

Suara-suara dari negeri-negeri muslim mulai surut. Ketika umat Islam sendiri tidak kompak, bagaimana mungkin berharap dunia luar bersuara lantang?

RAKYAT TIDAK SAMA DENGAN PENGUASA

Meski para pemimpin dunia memilih diam, rakyat dunia sebenarnya tidak semuanya setuju. Aksi solidaritas, kampanye digital, dan gerakan boikot terhadap produk yang mendukung penjajahan Israel terus tumbuh. Dari Jakarta, London, Istanbul, hingga Cape Town, suara rakyat masih ada—meski tak selalu diberi panggung.

Namun rakyat butuh alat. Butuh media yang jujur. Butuh pendidikan yang membebaskan. Butuh pemimpin yang berani. Selama sistem yang ada terus mengekang suara-suara itu, perubahan akan tetap lambat.

DIAM, BAGIAN DARI KEJAHATAN

Diam bukanlah netral. Dalam kasus Gaza, diam adalah bagian dari kejahatan itu sendiri. Dunia telah memilih diam karena takut kehilangan pengaruh, karena terikat kontrak ekonomi, karena tunduk pada propaganda, dan karena terlalu lelah untuk peduli.

BACA JUGA:  Pengantar Buku Saudagar Dunia Akhirat

Namun di tengah diam itu, Gaza tetap berdiri. Dengan segala luka dan keterbatasannya, Gaza adalah cermin nurani dunia. Dan selama dunia belum membela Gaza, selama itu pula dunia kehilangan hak untuk menyebut dirinya beradab.

Karena setiap butir debu di Gaza menyimpan pertanyaan yang sama:
Di mana suara kalian, wahai manusia ???

23 Juli 2025