Mengapa mereka terus diberi dana, senjata, dan legitimasi politik, sementara Palestina yang dikepung, dibombardir, dan dianiaya justru disalahkan karena membela diri?
Kita juga tidak bisa melupakan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah sudah menggambarkan sebagian kaum Bani Israil (nenek moyang ideologis Israel modern) dengan karakter keras kepala, pendusta, dan melampaui batas.
“Kemudian hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”
(QS. Al-Baqarah: 74)
“Mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar…”
(QS. Al-Baqarah: 61)
Kesombongan mereka bukan baru hari ini. Sudah sejak ribuan tahun lalu, mereka selalu merasa sebagai bangsa pilihan yang tak bisa disentuh hukum manusia. Dan dalam hadis pun, Rasulullah ﷺ menyebut bahwa mereka adalah kaum yang paling dengki terhadap Islam dan kaum beriman.
Dari situlah kita memahami bahwa apa yang dilakukan Israel hari ini bukan semata-mata urusan militer atau teritorial, tapi cerminan dari karakter ideologis yang telah lama terbentuk: karakter yang melihat nyawa selain mereka sebagai tidak penting, yang memandang tanah orang lain sebagai haknya, dan yang menganggap keadilan sebagai sesuatu yang hanya berlaku jika mereka yang diuntungkan.
Tapi kini dunia mulai berubah. Suara nurani mulai bangkit. Bahkan dari Eropa—yang selama ini dianggap pendukung loyal Israel—muncul keberanian untuk menyebut fakta apa adanya. Pernyataan Presiden Italia adalah pukulan telak bagi citra moral Israel. Itu bukan kritik politis, tapi pernyataan etik: “Kamu telah melampaui batas kemanusiaan.”
Dan kini kita tinggal menunggu, apakah dunia akan terus membiarkan bangsa yang telah kehilangan sifat manusia memimpin dalam menentukan nasib orang lain? Ataukah ini saatnya menempatkan Israel dalam posisi yang seharusnya: sebagai entitas penjajah yang harus diadili, bukan dipuja?
Karena jika dunia terus diam, maka bisa jadi bukan hanya Israel yang kehilangan sifat manusia, tapi kita semua.
27Juni2025












