Dua Pendekar Mabuk

Lalu panggung berubah. Rusia ikut gerah . China memperingatkan. NATO pasti terancam terpecah. Dunia terseret dalam pusaran yang tak bisa dihentikan. Akankah Perang Dunia Ketiga akan terjadi?

Babak Empat: Mabuk Menjadi Petaka

Donald Bebek yang mengambil keputusan untuk menyerang situs nuklir yang dicurigainya di Iran, tidak meminta ijin senat terlebih dahulu, Demonstran warganya memenuhi jalan-jalan. Tapi ia tetap berkoar, seperti pendekar tua yang tak tahu diri. Dengan santai menteri pertahanannya mengumuman bahwa semua ini telah jauh hari direncanakan sebelumnya. Padahal baru beberapa saat dia mengumumkan bahwa akan mengambil keputusan dua minggu kemudian, tapi keburu mabuk duluan sehingga tidak sabar langsung menyerang Iran.

Di Telapip, Setannyaho dikepung kebingungan karena warganya mulai pergi meningglkan tanah rampasan. Dia sibuk memprovokasi sekutunya dalam kondisi sudah sekarat. Rakyatnya semakin penuh ketakutan di antara Sirene berbunyi setiap malam. Mereka dan Anak-anak yang tidur di bunkerpun mulai gelisah. Tapi Setannyaho tetap bertahan, karena baginya, kekuasaan lebih penting daripada nasib warga dan anak-anak itu.

BACA JUGA:  Masih Ada Yang Nyinyir

Keduanya kini mabuk bukan hanya oleh ambisi, tapi oleh kerasukan iblis. Dunia terbakar, dan mereka tetap saja memainkan peran sebagai jagoan. Padahal sejarah telah menuliskan mereka sebagai penyebab semua ini.

Epilog: Tumbangnya Dua Pendekar

Kita menunggu episode ini, dengan penuh harapan tidak akan terjadi perang dunia ketiga. Karena ketika perang usai, yang tertinggal hanya reruntuhan. Kota-kota mati. Generasi trauma. Tanah penuh ranjau. Tapi kita menanti episode ini dimana dari ruang pengadilan internasional, nama mereka disebut: Donald Bebek dan Setannyaho, terdakwa utama kejahatan terhadap perdamaian umat manusia.

Kita berharap , mereka akhirnya ditinggalkan. Bebek dicemooh bangsanya. Setannyaho dikucilkan oleh sejarah negerinya sendiri. Dunia tak butuh pendekar mabuk. Dunia butuh pemimpin sadar. Sadar akan pentingnya perdamaian, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Harapan terakhir kita bersama ; dari puing-puing perang itu, lahirlah generasi baru. Mereka menolak dendam. Mereka membangun dari reruntuhan. Mereka mengutuk dua pendekar mabuk yang hampir mengakhiri dunia.

Begitulah kisah dua pendekar mabuk: satu menggenggam nuklir, yang lain menggenggam tanah yang bukan miliknya. Mereka menari di atas bara, dan membakar seluruh dunia hanya untuk menjaga ego dan kekuasaan. Tapi sejarah tak pernah lupa, dan dunia akhirnya sadar: perdamaian tak lahir dari mabuk kekuasaan, melainkan dari kejernihan hati nurani.

BACA JUGA:  Tujuh Tahun Gempa, Tsunami & Likuefaksi Palu (1): Dunia Bagaikan Sudah Kiamat

23Juni2025