Desa Berdaya NTB: Membangun Kemandirian dari Akar Desa

Ntb
ki-ka: Moderator, Giri Arnawa, Kadis DPMPD NTB H.L Hamdi, dan Kadis Kominfo Statistik NTB H. Yusron Hadi. (Foto: ist)

Pendekatan berbasis klaster ini diharapkan mampu menciptakan model intervensi yang lebih kontekstual, efisien, dan berkelanjutan.

Meskipun dirancang komprehensif, implementasi Desa Berdaya NTB tentu tidak bebas dari tantangan. Beberapa hal yang perlu dicermati antara lain:

Kualitas dan Konsistensi Pendampingan.
Rasio 1 pendamping : 50 rumah tangga menuntut kemampuan manajerial, sosial, dan teknis tinggi.

Keterpaduan Data dan Koordinasi Antar Lembaga. DTSEN membutuhkan pemutakhiran berkelanjutan agar tetap relevan.

Kesiapan Desa.
Tidak semua desa memiliki kapasitas kelembagaan yang sama, sehingga perlu pendampingan kelembagaan dan peningkatan literasi digital.

Partisipasi Masyarakat.
Program akan berhasil jika masyarakat terlibat aktif, bukan sekadar penerima manfaat.

Namun, di balik tantangan itu, terdapat harapan besar. Desa Berdaya NTB berpotensi menjadi model pembangunan daerah berbasis data dan kolaborasi. Ia memadukan dimensi kebijakan sosial, ekonomi produktif, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kerangka integratif.

Jika dijalankan dengan disiplin dan inovatif, NTB bisa menjadi contoh nasional dalam mengimplementasikan pendekatan “pembangunan dari desa” (development from the village), bukan sekadar “pembangunan untuk desa.”

BACA JUGA:  TAJAMKAN PENAMU

Desa Berdaya sebagai Cermin Paradigma Baru Pembangunan

Desa Berdaya NTB bukan sekadar program pengentasan kemiskinan, tetapi sebuah gerakan sosial menuju kemandirian. Ia mencerminkan paradigma baru pembangunan yang menempatkan desa sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima kebijakan.

Dengan dukungan sistem data terintegrasi, pendamping profesional, dan sinergi lintas sektor, Desa Berdaya NTB menjadi tonggak baru dalam perjalanan pembangunan daerah. Program ini menyatukan berbagai kepentingan dalam satu tujuan: menciptakan desa yang berdaya secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta rumah tangga yang berhasil keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Sebagaimana disampaikan Giri Arnawa, “Kita harap pendamping yang handal dan berintegritas dapat menjadi jembatan bagi lahirnya kemandirian sejati di desa-desa NTB.”

Harapan ini adalah refleksi dari visi besar: bahwa kemandirian daerah hanya akan tumbuh bila akar desa menjadi kuat.

Dan Desa Berdaya NTB adalah langkah nyata menuju cita-cita itu—sebuah perjalanan panjang dari ketergantungan menuju keberdayaan, dari intervensi menuju inisiatif, dari bantuan menuju kemandirian.

#Akuair-Ampenan, 24-10-2025