Selain prestasi akademiknya, Dr. Mala juga dikenal sebagai sosok ayah, guru, dan panutan yang penuh keteladanan. Bagi keluarga dan murid-muridnya, ia tidak hanya memberikan nasihat dalam kata-kata, tetapi juga lewat sikap hidup. Kesederhanaan, kedisiplinan, kejujuran, kepedulian, dan rasa tanggung jawab adalah nilai-nilai yang tercermin nyata dalam kehidupannya sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut menjadi warisan yang tidak kalah penting dibandingkan gagasan akademisnya. Ia membuktikan bahwa menjadi cendekiawan sejati bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menghidupi prinsip-prinsip moral yang luhur. Dalam konteks kepemimpinan bangsa, sosok seperti Mala merupakan figur ideal yang mampu menjembatani antara kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan moral.
Di balik prestasi internasional yang diraihnya, Dr. Mala tidak pernah melupakan akar identitasnya sebagai putra Indonesia. Kecintaan dan keberpihakannya pada tanah air tercermin jelas dalam setiap karya dan tindakannya. Disertasinya, misalnya, tidak hanya membahas teori pemerintahan secara abstrak, melainkan menyoroti langsung produk hukum Indonesia, yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.
Dari sini terlihat betapa kuatnya rasa nasionalisme Mala. Ia menggunakan kesempatan belajar di luar negeri bukan untuk melupakan tanah air, tetapi justru untuk mengangkat dan memperkenalkan Indonesia ke kancah dunia. Di dalam dirinya mengalir darah merah putih, sebuah patriotisme yang tulus dan tidak tergantikan oleh kemewahan atau fasilitas di negeri orang.
Buku Dari Sumbawa Menggapai Puncak Eiffel karya Nurdin Ranggabarani, yang mendokumentasikan perjalanan hidup Dr. Mala, bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi sekarang. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis nilai-nilai kebangsaan, kisah hidup Mala mengingatkan kita bahwa kejayaan bangsa tidak bisa diraih tanpa kecintaan pada tanah air.
Lebih jauh, keteladanan yang ditunjukkan Mala—baik dalam pemikiran maupun kehidupan sehari-hari—layak dijadikan model kepemimpinan di era modern. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus cerdas, visioner, sederhana, jujur, serta memiliki keberpihakan pada rakyat dan daerah. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan saat ini.
Dr. H.L. Mala Sjarifuddin, S.H., DESS., adalah contoh nyata bagaimana seorang anak bangsa dari daerah terpencil mampu menorehkan prestasi luar biasa di tingkat internasional. Dari Tana Samawa, ia menggapai puncak Eiffel, membawa nama Indonesia dengan karya ilmiahnya yang monumental. Disertasi tentang pemerintahan daerah yang ia hasilkan bukan hanya berkontribusi pada pemikiran akademik, tetapi juga memberi dampak nyata dalam kebijakan negara lain, bahkan menjadi rujukan bagi perjalanan bangsa sendiri.
Warisan intelektual dan keteladanan moral Mala merupakan sumber inspirasi yang abadi. Ia bukan hanya cendekiawan kelas dunia, tetapi juga seorang patriot sejati yang mencintai Indonesia tanpa syarat. Dari dirinya, kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan tantangan untuk dilampaui. Dan dari kisahnya, kita diyakinkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan pemimpin dan pemikir hebat, asalkan ada tekad, dedikasi, dan cinta pada tanah air.
#Akuair-Ampenan, 01-10-2025












