ANTARA NARASI KEAMANAN DAN KEPENTINGAN POLITIK

Bagi kelompok tersebut, Gaza bukan hanya wilayah konflik, tetapi tanah warisan religius dan historis yang harus “dikembalikan” ke dalam kekuasaan Yahudi. Maka, misi militer di Gaza lebih dari sekadar menghancurkan Hamas; ini adalah bagian dari narasi ideologis tentang tanah yang dijanjikan dan pembentukan Israel Raya.

SIMPATI TAPI TAK BERTINDAK

Dunia internasional tampak terbagi. Di satu sisi, banyak negara Barat mengutuk aksi kekerasan terhadap warga sipil, tetapi di sisi lain, mereka tetap mendukung “hak Israel untuk membela diri.” Kebanyakan negara Arab berada dalam posisi yang sulit—di antara solidaritas terhadap Palestina dan kepentingan geopolitik dengan Israel dan Barat.

PBB telah memperingatkan bahwa pengambilalihan penuh atas Gaza bisa menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar. Namun sejauh ini, belum ada tekanan serius yang bisa menghentikan Israel.

Lembaga kemanusiaan internasional juga menghadapi tantangan berat, karena akses ke Gaza semakin tertutup, dan banyak dari mereka menjadi target dalam konflik ini.

APA JALAN KELUAR?

Mungkinkah pengambilalihan Gaza dari Hamas oleh Israel justru menjadi katalisator untuk perdamaian? Secara realistis, tidak. Pendekatan militer jarang, jika pernah, menghasilkan solusi politik yang berkelanjutan. Bahkan jika Hamas hancur, tanpa solusi politik yang adil dan mengakui hak-hak rakyat Palestina, akan selalu ada kelompok baru yang lahir dari puing-puing kehancuran.

BACA JUGA:  "Nyen Nawang”: Menertawai Kesedihan

Jalan keluar sejati adalah rekonsiliasi politik internal Palestina, desakan internasional untuk mengakhiri pendudukan, dan dimulainya kembali proses damai yang adil, setara, dan mengakui hak rakyat Palestina untuk hidup merdeka di tanahnya sendiri.

Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah siklus kekerasan tak berujung: serangan, balasan, penghancuran, dan penderitaan. Israel boleh saja mengambil alih Gaza secara fisik, tetapi ia tak akan pernah benar-benar memiliki hati rakyatnya.

DARI API KE BARA

Israel mungkin mampu mengambil alih Gaza dari Hamas secara militer, tetapi ia tak akan mampu mengambil alih semangat rakyat Palestina. Sejarah telah menunjukkan bahwa pendudukan tidak akan pernah menjadi solusi damai. Ia hanya akan menyisakan bara yang membakar generasi demi generasi.

Jika dunia terus diam dan hanya menonton, maka yang akan terjadi bukan hanya kehancuran Gaza, tetapi juga kemunduran besar dalam nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan global. Gaza bukan hanya konflik antara dua entitas. Gaza adalah cermin kegagalan moral dunia.

8 Agustus 2025