Kembong Daeng terus mencipta karya sastra, menulis buku ajar, maupun buku-buku referensi untuk siswa, mahasiswa, hingga untuk kalangan masyarakat umum.
Buku-bukunya antara lain, Kosakata Tiga Bahasa (2013), Sintaksis Bahasa Makassar (2015), Kelong-Kelonna Tau Mangkasaraka (2018), dan Puisi Perempuan Makassar (2018), Pappilajarang Basa Mangkasarak jenjang SD hingga SMA, jilid I-XII (2000), Gaya Bahasa dan Penerapannya dalam Bahasa Makassar (2000), Kelong Pannyaleori 33 jilid (2021), Pakrimpungan Sanjak Mangkasarak (2022), Apresiasi Puisi Makassar (2022), dan Puisi Sumur Tak Mengering (2022).
Idealismenya terus terlecut untuk menulis dan melahirkan karya, sebagai upaya nyata menyelamatkan aksara Lontaraq. Sebab, tidak banyak bangsa-bangsa di dunia yang memiliki aksaranya sendiri. Diperkirakan, hanya ada sekira 25 aksara di dunia, yang sebagian juga terancam punah, karena pengguna dan penggunaannya kian sedikit. Padahal, penemuan aksara merupakan tanda kemajuan suatu peradaban.
Di Indonesia, meskipun keragaman bahasa daerah mencapai 718 bahasa lokal, tetapi yang punya aksaranya sendiri hanya beberapa. Aksara-aksara yang tersebar di Nusantara, antara lain, aksara Bali, aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Karo, dan aksara yang kita miliki di Sulawesi Selatan, yakni Lontaraq.
Karena itu, perlu upaya bersama yang–dalam istilah Prof. Nurhayati Rahman, Guru Besar Universitas Hasanuddin– disebut dengan gotong royong kebudayaan untuk menyelamatkan aksara kebanggaan kita tersebut.
Dalam buku Autobiografi Permata Karya kita dapat membaca kisah tokoh pelestari aksara Lontaraq tersebut yang tak melulu hanya berupa cerita hidupnya sendiri. Melainkan juga berisi banyak pesan dan muatan moral yang bersumber dari budaya dan kearifan suku Makassar, seperti dari syair-syair Kelong.
Ada banyak pesan leluhur dalam bahasa Makassar yang penting diaktulisasikan kembali kepada anak-anak, generasi Z, dan generasi Alpha, yang sudah banyak terpapar budaya global ini.
Memang harus ada upaya serius dan sungguh-sungguh ke arah itu, dalam bentuk kebijakan, dan terutama pembelajaran muatan lokal, sebagaimana sudah dipersiapkan buku referensinya oleh Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum.
Saya menikmati proses penyuntingan buku ini, lantaran ada upaya penulis menampilkan sesuatu yang berbeda, yakni dengan memasukkan puisi ke dalam kisah dan pengalaman yang ditulisnya–semacam picture in picture di layar televisi.
Bukunya bergaya storytelling dengan sistematika yang disusun secara akrostik mengikuti namanya: Kembong Daeng. Metafora digunakan secara tepat, peribahasa lama juga dikutip untuk memperkuat narasinya.












