“Permata Karya” Kembong Daeng

Rhonda Byrne dalam The Secret (2006), menyebut peristiwa yang kami jalani dan alami ini sebagai hukum tarik-menarik. Menurut Rhonda, pikiran kita merupakan magnet yang bisa menarik apa pun: peristiwa, kejadian, dan pengalaman.

Saya bisa bertemu dan dipertemukan dengan Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., karena belakangan saya fokus menggeluti dunia literasi. Kami sama-sama penulis, meski dengan genre dan isu-isu yang tak selalu sama.

Irisan pertemuan kami adalah karena Beliau pengkaji, penulis, dan aktivis yang tak henti menyuarakan pentingnya pemertahanan dan pemajuan bahasa dan sastra daerah, khususnya Makassar. Sementara saya belakangan banyak diajak terlibat dalam penyusunan regulasi (Peraturan Daerah/Perda) yang berkaitan dengan aksara, bahasa, dan sastra, atau kesenian dan kebudayaan Sulawesi Selatan, pada umumnya.

Salah satu di antaranya, sebagai legal drafter Ranperda Provinsi Sulawesi Selatan tentang Literasi Aksara Lontaraq, Bahasa, dan Sastra Daerah. Ranperda yang merupakan rekomendasi Festival Aksara Lontaraq pertama, 2020 ini, kemudian disahkan sebagai Perda definitif pada tahun 2023.

Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), saya juga mengembangkan beberapa program inovasi sekolah yang berkaitan dengan pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Misalnya, program inovasi PUSAKA di SD Inpres Cilallang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. PUSAKA merupakan akronim dari pelestarian budaya, bahasa, keaksaraan dan sastra daerah.

BACA JUGA:  Sosialisasi Bahaya Minuman Berpemanis dalam Kemasan di SDN 277 Pangi-Pangi: Mengedukasi Anak Sejak Dini untuk Gaya Hidup Sehat

Kembali pada sosok Prof. Kembong Daeng, saya melihat Beliau mirip sastrawan Norwegia, Jon Olav Fosse, kelahiran 29 September 1959. Penerima Nobel Sastra 2023 itu, gigih menulis dalam bahasa minoritas Norwegia, Nynorsk.

Nynorsk atau Norwegia Baru, merupakan salah satu dari dua bentuk tulisan bahasa Norwegia yang ada saat ini. Bahasa ini hanya digunakan oleh 10 persen penduduk di negara Skandinavia itu. Ada yang menilai, penggunaan bahasa ini merupakan isyarat politik yang diam-diam.

Anders Olsson, Ketua Komite Nobel Sastra, menggambarkan Fosse sebagai orang yang memadukan “keberakaran dalam sifat dan bahasa latar belakang Norwegia”.

Prof. Kembong Daeng pun begitu. Beliau menarik akar kulturalnya ke ranah akademik, memprosesnya, lalu dituangkan dalam wadah-wadah karya buku ajar agar anak-anak zaman kekinian tidak kehilangan tradisi leluhurnya yang adiluhung. Hal ini merupakan upaya pewarisan–semacam wasiat bagi kita–agar dilaksanakan penuh kesungguhan.

Tanpa kasak-kusuk dan tanpa berteriak, Prof. Kembong Daeng, melahirkan karya demi karya. Buku pertamanya Kana Alusukna Mangkasaraka malah terbit tanpa ISBN. Namun dari situ pintu-pintu royalty terbuka. Dari sisi bisnis perbukuan, ada segmen dan ceruk pasar yang belum terisi. Meski bukan itu sejatinya tujuan Beliau.