Pameran “Mengurai Kebekuan” menegaskan kembali posisi Taman Budaya NTB sebagai ruang kultural yang hidup dan terbuka. Ia bukan hanya panggung bagi yang sudah mapan, tetapi juga ladang tumbuh bagi yang sedang mencari bentuk.
Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, pameran ini menjadi simbol keberlanjutan dan solidaritas antara pelukis senior dan muda, antara tradisi dan pembaruan, antara refleksi individual dan kebersamaan sosial.
Kata “kebekuan” dalam tema pameran menjadi metafora yang kuat. Ia bisa dibaca sebagai kebekuan kreatif akibat pandemi, tekanan sosial, atau kehilangan ruang publik bagi seniman. Namun dalam pameran ini, kebekuan itu mulai mencair melalui dialog, keberanian bereksperimen, dan semangat berbagi ruang.
Lebih dari sekadar pameran lukisan, “Mengurai Kebekuan” adalah pernyataan kolektif tentang pentingnya kebersamaan dalam berkesenian. Ketika para pelukis dari lintas generasi bersatu, mereka tidak hanya mencairkan kebekuan di kanvas, tetapi juga dalam relasi sosial dan emosional mereka sebagai komunitas seniman.
Sebagaimana disampaikan oleh Lalu Surya Mulawarman, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi fondasi bagi iklim seni lukis yang lebih semarak dan produktif di masa depan. Dari ruang pameran yang hangat di Taman Budaya NTB ini, lahir bukan hanya karya, tetapi juga kesadaran baru tentang arti berkesenian: saling menginspirasi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.
Pameran “Mengurai Kebekuan” membuktikan bahwa seni tidak pernah benar-benar beku. Ia hanya menunggu sentuhan hangat: dari perupa yang jujur, kurator yang peka, ruang yang terbuka, dan publik yang bersedia mendengarkan.
#Akuair-Ampenan, 28-10-2025












