Pameran Lukisan dan Dialog Antargenerasi di Mataram

Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan keragaman gaya: dari realisme yang kuat secara teknik, hingga abstraksi yang liar dan simbolik. Tema-temanya pun beragam, meliputi lingkungan, tradisi, relasi sosial, hingga perenungan spiritual. Penataan ruang yang rapi dan menyenangkan membuat pengunjung bisa menikmati perjalanan visual yang lancar dan reflektif.

Salah satu daya tarik pameran ini adalah kehadiran Nuraisah Maulida Adnani, peserta termuda dengan tiga karyanya: Bersitatap, Hubungan, dan Kepala-Kepala. Karya-karya Nuraisah menghadirkan nuansa eksperimental, dengan teknik campuran (mix media) dan sapuan akrilik yang memperlihatkan pencarian arah estetik.

Dalam tiga lukisan itu, tampak motif berulang berupa tungkai kaki belalang, simbol yang rumit namun menarik, seolah menyimpan tanda-tanda yang menantang tafsir.

Dedy Ahmad Hermansyah, suami Nuraisah, menuliskan refleksi menarik di akun media sosialnya. Ia menyebut bahwa karya-karya Nuraisah “masih mentah” namun “menunjukkan potensi tema yang kuat dan spontan.” Ia juga memberi catatan tentang sapuan kuas yang masih ragu-ragu dan penggunaan tanda tangan yang kurang tepat dalam komposisi visual.

BACA JUGA:  Amir Hafid "Rimba" Bakal Gelar Pameran Tunggal Budaya Kita Adalah Kita di Etika Studio

Namun di balik kritik itu, tersirat kekaguman dan kasih seorang pasangan yang memahami perjalanan batin seorang seniman muda. Dedy menulis dengan jujur:

“Saya tahu bagaimana dia kadang tidak konsisten, kadang rajin berlatih tapi tak berapa lama hiatus lagi. Tapi saya percaya, dia hanya perlu banyak berlatih dengan konsisten.”

Catatan kecil ini justru menambah kehangatan pameran. Di tengah karya para maestro, tampil seorang pelukis muda yang berani menapaki jejak pertama. Dialog antara keduanya—Dedy dan Nuraisah—seakan melambangkan dialog antargenerasi seni lukis itu sendiri, di mana kritik, kasih, dan semangat tumbuh bersama.

Pameran “Mengurai Kebekuan” menegaskan kembali posisi Taman Budaya NTB sebagai ruang kultural yang hidup dan terbuka. Ia bukan hanya panggung bagi yang sudah mapan, tetapi juga ladang tumbuh bagi yang sedang mencari bentuk.

Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, pameran ini menjadi simbol keberlanjutan dan solidaritas antara pelukis senior dan muda, antara tradisi dan pembaruan, antara refleksi individual dan kebersamaan sosial.

BACA JUGA:  Ishakim Bawa “Spirit Leang-Leang” Hadir di Makassar pada Oktober 2026

Kata “kebekuan” dalam tema pameran menjadi metafora yang kuat. Ia bisa dibaca sebagai kebekuan kreatif akibat pandemi, tekanan sosial, atau kehilangan ruang publik bagi seniman. Namun dalam pameran ini, kebekuan itu mulai mencair melalui dialog, keberanian bereksperimen, dan semangat berbagi ruang.

Lebih dari sekadar pameran lukisan, “Mengurai Kebekuan” adalah pernyataan kolektif tentang pentingnya kebersamaan dalam berkesenian. Ketika para pelukis dari lintas generasi bersatu, mereka tidak hanya mencairkan kebekuan di kanvas, tetapi juga dalam relasi sosial dan emosional mereka sebagai komunitas seniman.

Sebagaimana disampaikan oleh Lalu Surya Mulawarman, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi fondasi bagi iklim seni lukis yang lebih semarak dan produktif di masa depan. Dari ruang pameran yang hangat di Taman Budaya NTB ini, lahir bukan hanya karya, tetapi juga kesadaran baru tentang arti berkesenian: saling menginspirasi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.

Pameran “Mengurai Kebekuan” membuktikan bahwa seni tidak pernah benar-benar beku. Ia hanya menunggu sentuhan hangat: dari perupa yang jujur, kurator yang peka, ruang yang terbuka, dan publik yang bersedia mendengarkan.

BACA JUGA:  Skenario Terbaik yang Bisa Diharapkan Indonesia dari Presiden Prabowo

#Akuair-Ampenan, 28-10-2025