Semua tempat disimpul adalah jejak sejarah Makassar.
Mengamati karya seni Instalasi yang diberi judul Home #5, maka lengkaplah bahwa yang akan ditampilkan adalah tiga rumah di bumi ini, yakni, sarang sebagai rumah para burung, rumah manusia dan rumah ikan (karamba/ rompong/ bubu).
Tak sah bila Seniman/Perupa Anzul digelar sebagai pelukis Kampung Garam bila karyanya tidak terdapat garam di dalamnya.
Dalam karya seni instalasinya, ia akan menumpuk, mengurai dan menata di bawah sarang sekitar seratusan kilo, biji-biji garam yang diambil dari Jeneponto dan Pangkep.
Bila hujan turun. “Tak apa, memang takdirnya kembali ke air,“ katanya, bahwa butir-butir kristal garam tersebut akan memberi efek kilau ketika terkena sinar matahari.
Ahmad Anzul seorang pria berdarah Bone, kelahiran Makassar, 11 September 1967, ini pernah menjadi anggota Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Makassar.
Setelah non aktif di Dewan Kesenian Makassar, Anzul bergabung di Yayasan Findart Space di daerah Antang, Makassar, yang kerap melaksanakan workshop bagi anak sekolah, membuat seni kriya dan lainnya.
Sejak 2018 Choy aktif di Makassar Art Inititive Movement (MAIM).
Di masa kanak-kanak, ia memang suka menggambar. Meski pada awalnya, sebagai anak pesisir ia hanya menggambar di pasir.
Dari tepi pantai, ia mulai mengenal laut, kapal, ikan, udang, kepiting, bakau yang semuanya mengendap ke alam bawah sadarnya.
Saat SMA, Anzul mulai ikut membuat dekor dan janur pengantin.
Muasal awal riwayat penemuan ide ‘Kampung Garam’. Konsep karya yang selanjutnya konsisten dieksplorasinya.
“Saya hanya mengambil dari peristiwa yang saya alami sendiri, ada di sekitar saya, apa yang saya rasakan dan paling mudah saya wujudkan jadi karya.” Lanjut Anzul bercerita.
Pengalamannya bermula ketika sang istri yang ia nikahi pada hari Bahari Nasional, saban kali menyajikan menu telur dadar maka Anzul selalu kebagian potongan telur di mana garamnya berkumpul. Itu yang membuat wacana garam melekat dalam benak ayah dua putri ini.
Lalu tentang pilihan konsep “Kampung Garam” itu kian mantap dan menguat sepulang dari Baloyya, Selayar. Saat itu Anzul baru saja turut membantu mengerjakan artistik karya Tugas Akhir S2 Penciptaan sahabatnya Hamrin Samad.
Pada sekira pukul 2 siang, terik, rombongan mobil yang ditumpangi tiba-tiba berhenti di Jeneponto tepat di daerah yang terkenal sebagai sentra produksi garam rakyat.
Saat turun dari mobil, Anzul menghirup aroma ladang garam yang merasuki tubuhnya. Lalu merenungkan tentang garam dan manfaatnya.
Anzul pun merasakan persinggahan di ladang garam Jeneponto itu tidaklah hanya menuai panas, gersang, dan gerah. Ia justru menuai rasa dan hal sebaliknya, seperti ada kupu-kupu yang membawa es batu yang membuat rasa sejuk. Itulah tumpuan dasar ide konsepnya.












