Obituari H.Hasan Kuba: Wartawan, Seniman dan Dramawan

Hasan kuba
Hasan Kuba

Berita-berita mereka tidak pernah muncul di media massa. Kenyataan inilah yang ikut memperburuk citra wartawan di era reformasi ini hingga lahir wartawan “muntaber” (muncul tanpa berita).

Selain menjalani profesi sebagai wartawan, Hasan juga membagi waktunya untuk berbagai kegiatan organisasi. Urusan organisasi sudah digelutinya sejak mahasiswa di AAN Negeri Makassar. Dia pernah tercatat sebagai Pengurus Pleno (Seksi Keamanan) HMI Komisariat akademi yang terletak di Jl. Sultan Hasanuddin itu.

Di PWI Sulsel, sudah dua periode menjadi Pengurus Pleno PWI Cabang Sulsel. Posisinya, Ketua Seksi Wartawan Budaya dan Film. Lalu menjadi Pengurus Harian dalam kapasitas sebagai Wakil Sekretaris I PWI Cabang Sulsel. Terakhir Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel.

Di bidang yang menjadi hobinya, main drama (teater), dia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Persatuan Artis Film (PARFI) Cabang Sulsel periode 2001-2006. Pada organisasi lain pun dia pernah berkiprah. Di Dewan Pimpinan Cabang Pemuda Panca Marga (DPC PPM) Kota Makassar dia dipercayakan sebagai sekretaris hingga Februari 2006. Di tingkat Sulsel, pada organisasi yang sama, Hasan pernah menduduki Jabatan Ketua Bidang Humas dan Hubungan Kelembagaan. Hingga tahun 2007, dia juga menjabat Sekretaris Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) Provinsi Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Indonesia Importir Gula Terbesar di Dunia

Pengalaman jurnalistiknya pun seabrek. Nominator Lomba Kritik Film Nasional pada Festival Film Indonesia (FFI) 1985 di Bandung ini, sering meliput bidang yang menjadi minatnya. Misalnya saja meliput FFI 1981 di Surabaya, 1983 di Medan, Festival Film ASEAN di Jakarta (1984).

Selain meliput festival film, dia juga meliput pementasan teater. Contohnya, ketika Teater Makassar tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Beberapa kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) pernah diliputnya, seperti HPN II (1985) di Makassar, HPN VII (2002) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan HPN VIII (2005) di Pekanbaru, Riau serta HPN IX di Bandung tahun 2006.

Lebih dari seperempat abad, bahkan hampir setengah abad sudah, dunia dan profesi jurnalistik ini dirambah lelaki dengan makanan kesukaan ikan bakar, ‘pallumara’ dan sayur asam ini. Sebagai pemimpin redaksi sebuah majalah yang terbit secara periodik, Hasan Kuba juga merasakan imbasnya. Mungkin ada benarnya pernyataan mendiang L.E.Manuhua belasan tahun sebelum dia meninggal.

‘’Sulawesi Selatan bukan lahan yang subur bagi tumbuhnya media pers,’’ katanya waktu itu tanpa merinci alasan-alasannya.

BACA JUGA:  Rusdin Tompo : Kita ini Mau Dikenang Sebagai Siapa ?

Tetapi, paling tidak, pernyataan itu bisa diubah dan disiasati. Hasan Kuba mencoba melakukan itu. Dia berharap, –waktu itu — ke depan kehidupan media di Sulawesi Selatan ini akan cerah, meski persaingan media tidak pernah mau kompromi.