Obituari H.Hasan Kuba: Wartawan, Seniman dan Dramawan

Hasan kuba
Hasan Kuba

Sering menulis, membuat suami Hamsiah Dg Kebo ini mulai menemukan jalan menjadi wartawan. Pada tahun 1980, Hasan – begitu dia akrab disapa — bergabung dengan SKM Pos Makassar pimpinan Rahman Arge. Cukup lama juga ayah empat anak ini berkiprah di Pos Makassar

Dalam rentang waktu dua dasawarsa itu, Hasan juga menimba banyak pengalaman di mingguan tersebut. Pada suatu hari tahun 1984, dia mendampingi ‘bos’-nya, Andi Tonra Mahie – Pemimpin Redaksi — pergi ke Sudiang, kediaman Wali Kota Ujungpandang Abustam. Biasa, pergi wawancara.

Mereka menggunakan mobil Sunny. Sekitar 50 m sebelum pintu I Unhas Kampus Tamalanrea, Andi Tonra berniat melambung sebuah mobil di depannya. Gas sudah ditancap, dari depan – arah berlawanan – melaju sebuah mobil lain yang jaraknya sudah dekat.

Andi Tonra mencoba mengerem Sunny yang dikendarainya. Remnya blong. Tidak ada pilihan lain. Upaya melambung mobil di depan tetap dilanjutkan agar terhindar dari tabrakan. Benar juga, berhasil dan selamat.

Mendampingi ‘bos’ seperti itu sudah rutin dilakukan Hasan. Ke kabupaten-kabupaten apatah lagi. Sambil melakukan perjalanan jurnalistik, Hasan juga belajar. Mulai dari soal keredaksian (penyusunan berita dan peliputan), lay out (perwajahan), hingga pemasaran dan periklanan.

BACA JUGA:  Saya Menyematkan Sikap Kritis dan Kepedulian pada Nama Anak-Anak

Jika Pemimpin Umum Pos Makassar Rahman Arge melakukan perjalanan jurnalistik ke daerah dan ke luar Sulawesi Selatan, Hasan pun sering diajak. Ke berbagai kota pernah dia dampingi Arge. Ke Jakarta, Surabaya, Medan, dan kota-kota besar lainnya.

Dalam perjalanan seperti inilah Hasan sering memanfaatkan waktunya untuk banyak belajar. Dari Arge, dia belajar mengenai penulisan berita, artikel, dan reportase. Termasuk bagaimana menelusuri kehidupan ini.

‘’Dalam menghadapi hidup ini, jadikanlah dirimu dicari uang. Jangan kamu yang mencari uang,’’ Arge berpesan, ketika suatu waktu keduanya menginap di Mess Pemda Sulsel Jl.Yusuf Adiwinata Menteng Jakarta. (Menerobos Blokade Kelelawar Hitam,Identitas Unhas, 2010).

Kenangan yang sulit dilupakan Hasan selama di Pos Makassar adalah dua kali melakukan polemik. Pertama dengan teman sepermainannya di Dewan Kesenian Makassar (DKM), Hasan Mintaraga (alm). Gara-garanya, berpangkal pada puisi almarhum yang berjudul Almamater. Kedua, dengan menggunakan nama samaran M.Nawir, Hasan perang pena dengan G.Ries T. Perkaranya, sebuah sinetron produksi TVRI Stasion Ujungpandang.

Berpolemik, menurut pemilik warna favorit biru, hitam, dan abu-abu ini, membuat hati panas dan telinga merah untuk menangkis ‘serangan’ lawan.

BACA JUGA:  Ormas Kelola Tambang, Akankah Makin Idealis?

‘’Tetapi cukup bermanfaat, karena membuat saya rajin membaca untuk menambah referensi membuat tulisan serangan lawan berikutnya,’’ kata Hasan puluhan tahun kemudian.

Dua puluh tahun berlalu, Hasan pun meninggalkan Pos Makassar. Ia mendirikan media sendiri. SKM JURDIL namanya. JURDIL pun tak bertahan lama. Tak didukung pemasaran plus modal yang memadai, media ini hanya berumur setahun.

Pada tahun 2000, menggaet H.Andi Sanif Atjo, alumni Akademi Administrasi Niaga (AAN) Negeri Makassar tahun 1975 ini mengurus Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) ke Menteri Penerangan yang waktu itu dijabat Yunus Yosfiah. Bermodalkan SIUPP baru itu, kedua pegiat pers ini mendirikan Surat Kabar Umum FIGUR. Hasan Kuba dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi. Setelah berjalan setahun, FIGUR berubah menjadi majalah berita hingga sekarang.

Profesi wartawan pada tahun 1970-an hingga paruh 1990-an, di mata Hasan Kuba, cukup terhormat dan disegani. Pada masa itu, kata dia, wartawan betul-betul menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dan masyarakat. Wartawan yang bertugas di lapangan benar-benar menerapkan kode etik jurnalistik sebagai landasan profesinya. Itulah yang membuat respons pemerintah dan masyarakat cukup positif terhadap pekerja pers.