Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa terjadi “ulkus pepticum” (luka pada lapisan dalam lambung) atau “duodenum” (usus halus akibat terkikisnya lapisan pelindung oleh asam lambung). Prof. Akil pun pun memberikan resep untuk menyembuhkan luka yang terjadi pada lambung ayah.
Alhamdulillah, Hb ayah yang semula hanya berkisar 5, bisa naik hingga 11-12, mendekati normal (13,3-17,5 untuk pria dewasa). Ayah pun batal ke Palu dan kembali ke Bima setelah adik Nurhayati yang datang dari Palu ke Makassar.
Hb adalah protein kaya zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh serta membawa kembali karbon dioksida ke paru-paru. Fungsi Hb, untuk kepentingan transportasi oksigen ke seluruh tubuh, transportasi karbon dioksida, dan memberi warna merah pada darah.
Setelah diopname di RS Ibnu Sina, Prof. Akil kerap bertanya mengenai keadaan ayah bila bertemu dengan saya di kampus sebelum beliau meninggal.
Begitu pun ayah tetap mengirim salam takzim kepada Prof. Akil hingga suatu hari saya memberi tahu ayah bahwa Prof. Akil telah berpulang. Mendengar berita duka itu, ayah langsung mengangkat tangannya, bedoa dan membacakan surah Al Fatihah untuk almarhum Prof.
Informasi yang sama juga terjadi antara saya dengan dr.Rachmat Latief pasca-opname ayah tersebut. Rachmat Latief kerap bertanya mengenai ayah, begitu pun sebaliknya. Ayah selalu bertanya perihal dokter yang pernah memeriksanya menjelang ke Palu yang batal itu.
Kamis (9/4/2026) melalui adik Hj Sri Suharni, nomor telepon genggam, (gawai)-nya, sedang tidak aktif. Saya kemudian mengirim pesan WA melalui nomor telepon adik Sri Suharni dengan harapan dia dapat membacakan pesan itu kepada ayah. Ayah sejak dua bulan terakhir praktis tidak bisa lagi membaca yang menjadi kegiatan yang selalu dilakukannya.
Pada pukul 23.00 Wita, tiba-tiba adik Sri melakukan video call (VC). Saya pun memberi tahu ada pesan yang saya dikirim.
“Tadi sudah diberi tahu. Abu sudah mendoakan dan membacakan Al Fatihah untuk almarhum,” kata adik Sri.
Mendengar suara saya, Ayah pun mengambil gawai adik Sri dan saya memberi tahu.
“Dokter Rachmat sudah berpulang…,”.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun……Ya dokter yang pernah memeriksa saya saat berencana ke Palu dulu,” ayah menambahkan.
“Belum tidur?,” tanya saya karena tidak biasa ayah begadang hingga pukul 23.00 Wita.
“Sekarang, saya susah tidur pada malam hari,” katanya.
“Mungkin kebanyakan tidur siang,” kata saya.
“Iya, karena tidak ada pekerjaan. Membaca sudah tidak bisa lagi,” jawabnya.













