Obituari Dr.dr.H. Rachmat Latief,Sp.PD-KPTI, FINASIM: Tiga Momen Tak Terlupakan

“Siapa namanya?,” usut saya lagi tidak mau kalah dalam “cincong” melalui celah sempit pintu yang terbuka.

“Rachmat Latief,” jawabnya.

“Kasih tahu dia, ada yang mau bertemu,” kata saya diplomatis sedikit mengecoh.

Lelaki itu, yang kemudian dikenal namanya Gabriel, meninggalkan saya yang masih “nempel” di pintu yang sedikit terbuka. Tidak lama Rachmat pun datang dan langsung membuka pintu lebar-lebar.

“Eh….Kak, silakan masuk,” kata Rachmat diikuti langkah saya yang masuk ke Aula Fakultas Kedokteran, satu-satunya ruang pertemuan paling luas di Kampus Unhas Baraya.

Di aula ini berbagai acara dilaksanakan. Mulai dari pelantikan rektor, penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa (HC), pengukuhan dan ujian promosi doktor, peringatan Dies Natalis Unhas, wisuda sarjana Unhas, hingga penerimaan dan inaugurasi mahasiswa baru Unhas, serta berbagai acara penting lainnya.

Setelah beberapa menit menyaksikan acara yang dilaksanakan terhadap mahasiswa baru FK Unhas yang dipimpin Rachmat Latief, saya pun mohon diri. Tidak mungkin ada acara yang “aneh-aneh” selama saya menjadi “mata dan telinga” publik kampus di Aula Kedokteran Unhas saat itu.

BACA JUGA:  Prof. Munirah Hasjim: Perpustakaan Unhas, Rumah Para Pencari Ilmu

Ketiga, suatu malam, sebelum menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, ya, sekitar tahun 2005, saya menyambangi tempat praktiknya di Jl. Arief Rahman Hakim No.4 (di jalan poros ke Kompleks Ujungpandang Plan/Baru). Waktu itu, saya datang mengantar ayah untuk memeriksakan kesehatannya sebelum melanjutkan perjalanan mengunjungi adik Nurhayati, yang menikah dengan pria asal Sulawesi Tengah.

Setelah memeriksa ayah, dr.Rachmat memanggil saya dan memberi tahu.

“Kak, batalkan kepergian bapak ke Palu, langsung bawa Bapak ke RS Ibnu Sina. Hb-(hemoglobin)-nya sangat rendah,” dr.Rachmat memberi tahu.

Dari tempat praktik dr.Rachmat, saya dan istri langsung mengantar ayah ke rumah sakit yang ditunjuk. Ayah terpaksa diopname beberapa hari di rumah sakit yang pernah dipimpin Prof.dr. Andi Husni Tanra, Ph.D..,Sp.An.tersebut. Keberangkatan ke Palu tidak masuk lagi dalam agenda dan dibatalkan.

Prof.dr. H.A.M.Akil (almarhum) akhirnya menangani kesehatan ayah dengan melakukan endoskopi, yakni pemeriksaan dengan selang kamera ke lambung. Caranya, selang yang di ujungnya terpasang kamera mini dimasukkan melalui mulut ayah dan dari luar didorong hingga melewati kerongkongan dan tiba di lambung. Saya menyaksikan hasil potret kamera kecil itu di layar komputer yang juga bisa dilihat oleh pasien (ayah).

BACA JUGA:  Tukang Bikin Spanduk

Namun, baik saya maupun ayah, jelas tidak paham terjadinya luka pada lambung tersebut. Hanya Prof. Akil yang paham.