MENGAPA SAYA TETAP OPTIMIS TERHADAP PRABOWO

Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia terkikis perlahan. Dimulai dari pembiaran kecil. Dari satu kasus yang tidak dituntaskan. Dari satu suara yang dibungkam.

Civil society membaca tanda-tanda itu. Mereka tidak sekadar bereaksi. Mereka mengingat.

Dan justru ingatan kolektif itulah yang membuat kekhawatiran ini terasa begitu nyata.

-000-

2. Politik Luar Negeri yang Dianggap Menyimpang dari Bebas Aktif

Indonesia selama puluhan tahun dikenal dengan prinsip bebas aktif. Tidak berpihak, tetapi aktif dalam menjaga perdamaian.

Namun kini, sebagian melihat adanya pergeseran.

Keterlibatan Indonesia dalam blok tertentu, yang justru terasosiasi dengan konflik, menimbulkan pertanyaan. Apakah kita masih bebas. Ataukah kita mulai terseret arus geopolitik global.

Lebih jauh lagi, ada kegelisahan yang lebih dalam. Di dalam negeri, sentimen publik terhadap Israel dan Donald Trump sangat negatif. Bukan tanpa alasan. Gambar-gambar anak-anak yang tewas di Gaza, tubuh kecil yang terbungkus kain putih, telah menghantui nurani kolektif bangsa ini.

BACA JUGA:  TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Indonesia adalah bangsa yang sejak awal berdiri di atas solidaritas terhadap penjajahan dan penderitaan. Maka ketika tragedi kemanusiaan terjadi di Jalur Gaza, publik tidak melihatnya sebagai konflik yang jauh. Ia terasa dekat. Ia terasa personal.

Namun pada saat yang sama, Indonesia justru memilih bergabung dalam forum seperti BOP, yang oleh sebagian kalangan dinilai memiliki keterkaitan dengan kekuatan global yang terlibat dalam eskalasi konflik, termasuk ketegangan dengan Iran.

Walau sudah dijelaskan,
menjadi anggota BOP adalah ikhtiar agar Indonesia punya enggagement dan akses lebih untuk perjuangan Palestina merdeka, tapi tetap berkembang persepsi yang berbeda.

Di sinilah paradoks itu muncul.

Di satu sisi, rakyat bersimpati pada korban. Di sisi lain, negara terlihat berjalan dalam orbit kekuatan yang justru menjadi bagian dari konflik itu sendiri.

Yang paling menyayat adalah diamnya sikap terhadap tragedi kemanusiaan. Ketika sekolah dibom di Iran. Ketika 160 remaja dan anak-anak menjadi korban. Ketika dunia berduka.

Dan Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai suara moral di panggung internasional, justru terdengar sunyi.

BACA JUGA:  KEBIJAKAN KESEHATAN DAN DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT MISKIN

Civil society melihat ini bukan sekadar kebijakan luar negeri. Ini soal identitas bangsa.

Apakah kita masih bangsa yang berdiri untuk kemanusiaan. Ataukah kita mulai kehilangan kompas moral kita.

-000-

3. Presiden yang Dianggap Terisolasi dari Realitas

Kritik ketiga lebih halus, tetapi justru paling berbahaya.