MENANTI TAJI PEMERINTAH BASMI PORNOGRAFI

Penulis MENANTI TAJI PEMERINTAH BASMI PORNOGRAFI
Penulis

Faktor penyebab anak anak terpapar pornografi, beberapa literatur menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak terpapar pornografi (Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, 2017; Semai, 2015; Strasburger et al., 2010; Tim Sejiwa, 2018), antara lain:
1) tidak sengaja melihat pornografi yang muncul saat menggunakan gadget orangtua atau saat mengakses internet; 2) menerima dan membuka pesan teks, foto, atau video seksual di media sosial; 3) memiliki rasa ingin tahu atau penasaran yang tinggi, sehingga membuat anak mencoba mengakses situs bermuatan pornografi;
4) terpengaruh dengan ajakan atau bujuk rayu teman sebaya dan lingkungan sekitarnya;
5) perasaan BLAST, yaitu: Bored (Jenuh), Lonely (Kesepian), Angry (Marah), Stressed (Stres), Tired (Lelah); 6)kurang pendidikan agama, khususnya pembelajaran karakter dan penanaman akhlak dari sekolah;
7) kurangnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya perhatian orang tua dalam pengawasan media yang digunakan anak.

Kemudian setelah anak anak terpapar pornografi maka muncullah masalah masalah yang bisa merusak generasi bangsa ini. Kerusakan yang terjadi adalah;
1)merusak otak anak,
2) Membuat anak kecanduan pornografi,
3) Sulit konsentrasi dan fokus dan
4) Memungkinkan anak anak menjadi pelaku kekerasan seksual di masa mendatang.

BACA JUGA:  Nasrul, Kamus Asal, dan Logo-Logo Berkonsep Aksara Lontaraq

Perkembangan zaman (modernisasi) adalah sebuah kepastian. Orang tua tidak dapat membatasi diri atau anak-anak untuk menjauh dari teknologi canggih saat ini, karena itu dapat membuat anak usia dini tertinggal jauh oleh dunia yang terus berkembang. Namun orang tua sangat berperan besar dalam mencegah hal tersebut terjadi.

Pentingnya Pendidikan Seksual Sejak Dini!

Pendidikan seksual merupakan suatu keterampilan dan pengetahuan yang perlu diberikan sedini mungkin kepada anak mengenai perilaku seksual untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi di masa depan seiring bertambahnya usia serta membentuk karakter dan pola perilaku agar mampu terhindar dari perilaku-perilaku yang beresiko terhadap pelecehan seksual maupun perilaku seksual menyimpang.

Sigmund Freud ahli psiko analisa menyatakan bahwa terdapat 5 fase atau tahapan perkembangan seks diantaranya fase oral, fase anal, fase phallic, fase laten dan fase genital.
1). Fase Oral (0-2 tahun), pada tahap ini pemenuhan kenikmatan seksualitas awal anak berada di daerah sekitar mulut seperti saat menyusu pada ibu atau pun memasukkan benda-benda kedalam mulut
2). Fase Anal (2-3 tahun) fase ini berlangsung saat pemenuhan kenikmatan seksual anak berada pada daerah anus dan sekitarnya contohnya ketika anak buang air besar atau kecil 3). FasePhallic (3-6 tahun) menjelaskan bahwa kenikmatan seksual dialami anak saat alat kelaminnya mengalami sentuhan atau rabaan dan fase ini anak telah mulai mengenali perbedaan lawan jenis,
4). Fase Laten (6-11 tahun), fase ini aktivitas seksual yang dialami anak telah mulai berkurang dikarenakan anak sedang focus pada perkembangan fisik dan kognitifnya karena mereka mulai memasuki masa sekolah,
5). Fase genital (12 tahun keatas), merupakan fase terakhir tahap perkembangan psiko seksual, hal ini dikarenakan organ seksual dan hormone seksual pada diri anak mulai aktif sehingga anak sudah menikmati aktivitas seksual secara sadar.