Masuk Lewat Jendela, Nyalakan Pemancar Pukul 04.00 Dini Hari

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Gowa — Saya sering katakan, kalau orang pernah bekerja di lembaga penyiaran, pasti disiplinnya terbentuk. Seorang penyiar selalu dianjurkan paling lambat datang 15-30 menit sebelum dia bertugas. Ini penting supaya dia prepare, mempersiapkan diri dan bahan siaran yang akan dibawakan. Dia mesti mencari atau melihat lagu apa yang cocok sebagai pembuka siarannya, atau persiapan lain yang diperlukan supaya dia tidak terburu-buru.

Itu pada level penyiar, ketika siaran sudah mengudara. Sebelum itu, ada tugas penting yang tidak semua orang tahu: menghidupkan pemancar. Ya, memang tidak semua orang tahu karena dilakukan sebelum subuh hari, ketika kebanyakan orang masih terlelap tidur. Tugas itulah yang saya emban di masa awal bekerja di Radio Venus AM 1152 Khz, tahun 1994, sebelum kantor punya office boy.

Oleh teman-teman, office boy ini disebut (maaf) penjaga studio, karena dia tidur di studio, bertanggung jawab atas kebersihan studio, dan membantu kelancaran tugas penyiar. Demi kemudahan tugasnya, office boy Radio Venus, kebanyakan tidur di kantor yang memang cukup luas, dan punya fasilitas kamar tidur. Dia tidur di studio karena tuntutan pekerjaan, membantu menghidupkan pemancar sebelum pukul 04.00 wita. Disebut membantu karena dengan begitu, sebagai orang yang bersiaran pagi, tak perlu lagi datang buru-buru menaikkan pemancar. Selama saya bekerja di sana, tahun 1994-1996, ada empat office boy. Mula-mula Udin, lalu keluar digantikan Nyong, kemudian diganti lagi oleh Johan, dan terakhir Victor.

BACA JUGA:  Menegur di Ruang Publik, Mengurangi Martabat Komunikasi Pemerintahan

Sebelum ada office boy menginap di kantor, lalu bangun dini hari untuk menghidupkan pemancar, sayalah yang bertugas menghidupkan pemancar. Jarak rumah saya di Kassi-Kassi, Jalan Palm Merah, dengan studio Radio Venus tak cukup 100 meter. Sebagai informasi, rumah saya itu hanya beberapa meter dari batas Jalan Aroepala dengan Jalan Letjend Hertasning, atau dekat dengan Kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar, sebelum pindah.

Dari rumah ke studio Radio Venus, saya hanya berjalan kaki. Jalan menyusuri Komplek Permata Hijau Permai di gelap malam. Alamat Radio Venus di Komplek Permata Hijau Blok L Nomor 9, berhadapan dengan perumahan pegawai Pemda Provinsi Sulawesi Selatan, yang biasa disebut perumahan kantor gubernur. Di depan studio Radio Venus ini ada tanah kosong yang oleh warga dijadikan lapangan olahraga. Tidak ada lampu jalan, penerangan hanya mengandalkan lampu-lampu dari rumah warga. Jadi terasa sepinya, apalagi dini hari.

Begitu tiba, saya masuk lewat jendela yang berada di sisi kanan pintu. Salah satu jendela kaca itu sengaja dibiarkan tidak dikunci kalau malam karena, saat itu, pintu utama kantor rusak, tidak bisa dibuka dari luar. Tidak banyak yang tahu kondisi pintu yang rusak, dan bagaimana saya masuk ke studio saat dini hari. Setelah berada di dalam studio, terlebih dahulu saya nyalakan semua lampu, lalu menuju ke ruang pemancar. Ruang pemancar bersebelahan dengan bilik siar dan ruang diskotik yang menyimpan koleksi kaset Radio Venus.

BACA JUGA:  Resensi Buku: Sosiologi Komunikasi: Gagasan Sembilan Tokoh Klasik Hingga Era Digital

Menghidupkan pemancar itu mudah, cukup menarik tuas yang menempel pada dinding. Namun, yang perlu diperhatikan adalah jarak waktu menarik tuas pertama dan kedua. Durasi jaraknya harus 30 menit. Kalau tidak, pemancar akan terbakar. Itu wanti-wanti yang disampaikan Pak Eric Djajakusli, saat menugaskan saya menghidupkan pemancar. Hal-hal teknis sederhana juga diajarkan kepada saya, sebagai orang yang bertugas pertama, dan orang yang pertama berada di studio. Sering kali, saya berada sendiri dan perlu mencari cara untuk menepis ketakutan. Cara paling gampang, ya tentu saja dengan mendengar lagu hehehe.