’’Kau ke Mamuju, meliput musibah gempa bumi. Rombongan Gubernur sudah berangkat tadi pagi-pagi, tidak ada wartawan PR yang ikut. Kau menyusul. Cari kendaraan ke Mamuju, ini uang biaya perjalanan dan lain-lainnya,’’ katanya sembari mengulurkan kertas buram, yang tidak lain adalah nota kas bon yang biasa dipakai untuk mengambil dana di bagian keuangan kantor.
Ternyata, dari tadi pagi, beliau sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengirim wartawan ke Mamuju. Saya juga tidak tahu, apakah memang beliau sudah tunggu-tunggu untuk memberi penugasan itu atau tidak. Namun yang jelas, Pak Basir selalu memilih wartawan yang dia anggap mampu untuk melaksanakan tugas yang tidak ringan.
Dalam banyak pengalaman, saya selalu menjadi langganan untuk ditugasi mewawancarai sosok yang memerlukan wawancara mendalam. Kemampuan “nose for news” (pensiuman berita/informasi) beliau luar biasa. Sebagai pemimpin redaksi‚ tugas beliaulah yang selalu menugaskan wartawan untuk meliput sesuatu yang khas, terutama yang luput dari perhatian para anggota redaksi lainnya. Biasanya, beliau memberi tahu latar belakang seseorang yang kelak akan diwawancarai, sehingga wartawan yang ditugaskan memperoleh gambaran awal masalah yang hendak digali.
Selama hidup beliau, hanya sekali saya merasa khawatir Pak Basir merasa tak enak. Ceritanya, suatu hari saya meliput kisah pertukaran dua anak di salah satu rumah sakit Sungguminasa. Kedua anak itu dipertemukan dengan ibu kandungnya masing-masing setelah berusia 12 tahun. “Features” mengenai kisah ini saya sudah kemas manis.
Usai disusun, naskah diserahkan ke Wakil Pemimpin Redaksi, Henny Katili. Almarhum Pak Henny tak segera memuatnya sebelum dilihat oleh Pak Basir. Apalagi menyangkut kisah yang memiliki daya tarik tersendiri (human interest). Setelah seminggu, naskah itu tak dimuat-muat juga. Pada suatu malam, selagi piket, saya iseng-iseng membongkar tumpukan tulisan di atas meja Pak Basir. Saya hanya ingin memastikan bahwa tulisan itu sudah tiba di meja beliau dan membacanya.
Ternyata, benar ada. Tulisan itu bergabung dengan beberapa tulisan dan artikel lainnya. Tidak ada coretan apa-apa. Juga tidak ada catatan yang memberi tanda bahwa tulisan itu akan dimuat atau tidak. Saya bertanya dalam hati, mengapa tulisan semenarik ini tidak dimuat?
Sekembali ke rumah, saya membongkar kembali arsip (tindasan atau lampiran) tulisan tersebut. Keesokan hari, naskah itu dikirim ke Harian Suara Karya Jakarta melalui pos, karena kebetulan waktu itu, saya juga tercatat sebagai koresponden di Sulawesi Selatan.












