M.Basir, Perempuan Ambon-Belanda Gagalkan Dieksekusi

M.basir
M.Basir (kanan) saat menghadiri peluncuran Satelit Palapa II di Cape Canaveral Florida, AS 9 Maret 1977. (Foto: Buku M.Basir: Lebih Berkuasa dari Para Penguasa, 2023).

Keajaiban terjadi. Malaikat maut ternyata belum menghampirinya. Seorang perempuan berdarah Ambon Belanda bernama Qori, bergegas menjelaskan kepada Kompeni bahwa Basir adalah keluarganya.

Wajahnya yang putih bagai air muka Eropa, melunturkan keraguan Kompeni. Basir diturunkan dari atas truk. Dipisahkan dari puluhan orang yang meronta berdesakan. Qori adalah istri Makka Moka, kakak dari Rivai Pakihi Moka (pendiri YAPTI Jeneponto).

Basir adalah Pedoman Rakyat, Pedoman Rakyat adalah Basir. Keduanya ibarat kembar siam, sulit dipisahkan. Juga, bagaikan dua sisi mata uang. Menjabat sebagai pemimpin redaksi di koran ini, Basir membesarkan surat kabarnya dengan cinta dan totalitas kerja.

Banyak wartawan profesional yang lahir dari didikannya. Independensi jurnalisme yang diterapkan ketika itu membawa Pedoman Rakyat tampil sebagai koran yang disegani di Indonesia Timur, bahkan nasional.

Ada dua tugas wartawan: mewartakan berita dan menyingkap kebenaran. Dan kita sebagai insan pers, dimuliakan oleh tugas yang kedua.

Tulisannya sering menjadi rujukan kebijakan pemerintah. Pun sebaliknya, tak sedikit kebijakan yang direvisi akibat tulisannya.

BACA JUGA:  Rahman Rumaday, Tanpa Jejak

Keadaan ini kemudian menghantarnya sebagai wakil rakyat Kota Makassar di era 70-an. Meskipun demikian, politik tak menjadikannya silau terhadap kekuasaan.

Beliau lebih memilih memperbanyak relasi di banyak tingkatan; dari tingkat Istana di ibu kota, sampai gubuk sederhana di lorong kampung dan desa.

Di masa M.Dg. Patompo menjadi Wali Kota Makassar, Basir menjadi mitra dalam penataan Kota Makassar. Beberapa patung dan taman kota yang menghiasi Makassar ketika itu (termasuk ‘Tanggul Patompo’ yang terkenal) adalah hasil kolaborasi Patompo yang ‘gila’ membangun dengan Basir yang ‘bertangan dingin’.
Saat di penghujung jabatannya sebagai panglima, Jenderal M. Jusuf meminta kepada Basir untuk mengajukan permintaan.

’’Apakah ingin sesuatu, rumah? Atau jabatan gubernur? Katakan, Basir..,” desak M.Jusuf.

Didesak sahabatnya, Basir menjawab.
“Saya tidak tertarik. Saya minta yang paling berharga dari itu yang Pak Jusuf miliki,” sahut Basir.

“Apa itu,?” Jusuf yang tersentak bertanya.
“Foto keluarga, Bapak,” jawab Basir tenang.

Hingga kini, foto M.Jusuf bersama istrinya, tetap terpasang di salah satu dinding di rumahnya di Jalan Durian, Makassar.

BACA JUGA:  "Ngopi Itu Hak Asasi", Literasi Isu HAM Lewat Seni

Kisah ini hampir sama ketika Solihin GP hendak menyelesaikan jabatannya sebagai panglima. Beliau pun bertanya sama kepada Basir.

“Apa yang kau inginkan? Menjadi Gubernur?”
Basir menolaknya dengan alasan bersedia tapi nanti jika Pak Solihin menjadi Menteri Dalam Negeri.