“Ini bukan tentang apa yang kita kenakan…. tapi tentang apa yang kita bawa pulang dari Ramadan.”
Saya menarik napas panjang.
Percakapan itu semakin dalam.
“Imanmu bagaimana?”
“Masihkah ia seterang kemarin?”
“Akhlakmu bagaimana?”
“Masihkah ia selembut saat kau menahan marah?”
“Lisanmu… bagaimana?”
“Masihkah ia terjaga… atau mulai kembali bebas tanpa arah?”
Motor melaju lebih pelan. Bukan karena jalan, tapi karena pikiran saya sedang penuh.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat. Ia hanya menuntut kejujuran.
Saya menunduk sedikit, meski mata tetap ke depan.
Lalu, di tengah suara angin dan takbir, saya teringat pada penjelasan Prof. M. Quraish Shihab, mengenai idul fitri.
“Tiga makna Idul Fitri…”
Tiga makna itu adalah Suci, Baik, dan Indah.
Saya mengulangnya dalam hati, seperti mengulang pelajaran yang seharusnya tidak pernah dilupakan.
“Suci…”
“Kembali seperti bayi… tanpa dosa.”
“Tapi… apakah saya benar-benar kembali bersih?”
“Atau hanya merasa bersih… karena sudah berpuasa?”
“Baik…”
“Memperbaiki hubungan dengan Allah… dan dengan manusia.”
“Tapi… apakah saya benar-benar berubah?”
“Atau hanya rajin… karena suasana?”
“Indah…”
“Menjadikan akhlak sebagai keindahan hidup.”
“Tapi… apakah keindahan itu akan bertahan?”
“Atau hanya singgah… lalu pergi?”
Saya tersenyum kecil di balik helm. Senyum yang tidak sepenuhnya ringan.
“Ternyata…” saya berbisik dalam hati,
“yang paling sulit bukan menahan lapar dan haus…”
“tapi menjaga hati agar tetap hidup setelah Ramadan pergi.”
Motor kami melaju lebih jauh. Jalan semakin padat. Semua orang seperti menuju satu arah masjid, tempat di mana doa-doa akan dipanjatkan, dan mungkin… tempat di mana hati diuji.
Tiba-tiba…
Seperti ada suara yang muncul dari dalam diri saya sendiri. Tidak keras, tapi jelas.
“Jadilah hamba Allah yang Rabbani (taat sepanjang waktu), jangan menjadi hamba Ramadhan (hanya taat saat Ramadhan saja).”
Saya terdiam.
Tangan saya sedikit mengendur di gas.
Kalimat itu seperti menampar… tapi dengan lembut.
“Iya…” saya menjawab pelan dalam hati.
“Kalau semua ini berhenti hari ini…”
“berarti selama ini saya hanya singgah di Ramadan.”
Saya menelan pelan.
“bukan benar-benar berubah.”
Angin pagi terasa berbeda sekarang. Tidak lagi sekadar dingin, tapi seperti membawa kesadaran.
Saya kembali bertanya.
“Kalau mau sombong… untuk apa?”
“Fir’aun sudah lebih dulu… dan kesombongannya justru menghancurkannya.”
“Kalau mau bangga dengan harta?”
“Qarun juga sudah lebih dulu… dan hartanya justru menelannya.”
Saya tertawa kecil, getir.
“Jadi… apa yang tersisa untuk dibanggakan?”












