“Indonesia akan mendekati makna ‘jannatuna’ jika warganya tidak saing memusuhi karena perbedaan. Jika ruang publik dipenuhi etika, bukan cacian. Jika persaudaraan lebih kuat daripada provokasi. Jika negara hadir melindungi yang lemah, bukan membiarkan mereka terpinggirkan. Di sinilah pesantren berperan yang sangat besar,” kunci jenderal purnawirawan bintang dua itu disambut tepuk tangan yang hadir. (mda).
Laksda (Purn.) Dr.Ir.Abd.Rivai Ras, M.M.,M.S.,M.Si, IPU ASEAN Ing. IAPIM, Jembatan antara Pesantren dan Masa Depan Bangsa
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Nama saya lagi-lagi disebut, dalam suatu kegiatan KPID Sulawesi Selatan di Hotel Cokelat, Jalan Onta Lama. Tentu saja, nama saya tidak disebut dalam forum resmi, tetapi diperbincangkan oleh beberapa orang…

Pergeseran Nilai Demokrasi. Perubahan itu ada yang menjadi lebih baik dan buruk, keduanya adalah perubahan. Namun dari wacana Pilkada dipilih oleh DPR ini merupakan perubahan yang buruk, karena disamping itu…

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, *_“Rusaknya manusia karena cinta jabatan, dan rusaknya jabatan karena cinta dunia.”_* Tugas hanyalah alat. Nama hanyalah penanda. Keduanya tak berarti apa-apa jika tidak melahirkan kebaikan. Apalah…

Dalam buku ini, tergambarkan dengan jelas bagaimana seorang Guru Besar tak henti belajar. Beliau tak sebatas hanya membaca teks tapi juga konteks dan mengikatnya menjadi makna, dalam wujud karya dan…

Kembong Daeng terus mencipta karya sastra, menulis buku ajar, maupun buku-buku referensi untuk siswa, mahasiswa, hingga untuk kalangan masyarakat umum. Buku-bukunya antara lain, Kosakata Tiga Bahasa (2013), Sintaksis Bahasa Makassar…







