Sebagai seorang anak nelayan, aku seperti mewarisi keahlian melaut. Lingkungan sosial secara turun-temurun membentuk diriku sebagai anak laut. Bila sore, selalu kuisi dengan melaut untuk sekadar mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Aku juga berkebun untuk membantu ibuku. Kini aku berperan sebagai seorang ayah.
[6/9 05.55] Rusdin Tompo: Walau harus kuakui, secara mental aku belum siap untuk mengemban semua tanggungjawab itu. Namun karena keadaan dan kondisi rumah, mengharuskan aku untuk siap melakoni kehidupan seperti ini.
Pada masa-masa itu, setiap malam, aku duduk di depan meja makan sendiri. Bukan karena kekurangan makanan untuk disajikan melainkan rasa kesendirian yang kualami. Meja makan yang dahulu ketika jam makan malam selalu ramai. Kini aku hanya duduk melahap makanan sendiri.
Kebiasaan yang dahulu selalu diajarkan bapak ketika jam makan harus makan bersama, kini hampir setiap malam aku hanya makan sendiri. Entahlah, semenjak bapak tiada, ibu dan adik adikku selalu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Kondisi ini membuatku semakin rapuh.
Hampir setiap malam aku mengunci diri dalam kamar, menangis, menangis dan terus menangis. Seperti itulah caraku melepas lelah dan rindu pada bapak.
Mungkin kalian akan bertanya, bukankah bisa berbagi cerita kepada ibu atau teman? Iya, itu saran yang bagus. Cuma entah kenapa, aku sudah terbiasa untuk memendam semuanya sendiri. Bagiku, cara tuk melepas semuanya adalah dengan menangis.
Di sela-sela kesibukanku bekerja sekadar untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan membantu ibu di rumah, seorang teman menemuiku. Kebetulan waktu itu aku bekerja di kecamatan berbeda .
Teman sekelasku itu membawa pesan. “Bro, sekadar info dari wali kelas. Pihak sekolah meminta kepastian mengenai sekolahmu. Apakah masih mau lanjut sekolah atau tidak. Karena sudah ada beberapa surat panggilan tapi kamu dan orangtuamu tak pernah meresponsnya.”
Akh, situasi ini membuatku teramat bingung. Di satu sisi ada aturan sekolah yang mesti dipatuhi, yakni salah satunya jika tidak masuk sekolah lebih dari 3 hari maka bukan lagi diberi surat panggilan, tapi pasti sudah berupa peringatan. Di sisi lain, ada kebutuhan finansial yang harus juga kupenuhi. Aku bekerja di sini untuk memenuhi keperluan keluarga.
Karena ada utusan sekolah lewat teman kelasku itu, maka aku balik ke kampung halaman. Aku pertimbangkan surat panggilan sekolah itu. Aku diskusikan masalahku dengan beberapa teman dan kakak-kakakku.
Di sela-sela diskusi, ada satu pernyataanku yang membuat mereka cukup terkejut. Aku putuskan untuk pindah sekolah. Mendengar rencanaku itu, langsung dibantah oleh salah satu kakak. Katanya, “Dengar baik-baik Haekal. Jika kamu pindah sekolah, siapa yang bantu ibumu di rumah? Siapa yang jaga adek-adekmu. Jadi tolong dipertimbangkan kembali rencanamu.”
Ahhh, aku mulai gamang. Hatiku luruh. Dalam hati aku membenarkan apa kata kakakku. Hanya saja, dengan sederet kenakalan dan kasus yang kupunya, rasa-rasanya akan lebih baik jika aku pindah sekolah. Ini pilihan yang sulit . Namun mungkin itu bisa mengurangi beban kekhawatiran dan pikiran ibu. Keputusanku bulat, aku harus pindah sekolah!
“Hidup ini adalah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.”
Tepat 16 Agustus 2020, aku ambil keputusan terbesar dalam hidupku. Keputusan ini akan menentukan masa depanku. Dengan doa restu ibu dan dukungan adik-adikku. Aku melanjutkan petualangan di Kota Makassar. Aku pindah sekolah, saat duduk di kelas 2 SMA. Di Kota Daeng ini, sudah empat tahun aku mengadu nasib. Aku berhasil menamatkan sekolahku di MAS Al-Hidayah Makassar dan kini menjalani status sebagai mahasiswa UIN Alauddin. (*)












