Dalam wawancara melalui telepon selama 15 menit, Panda Nababan sudah memperoleh informasi lengkap mengenai pembajakan itu.
Begitu ampuh menjual nama Satgas Intel Kopkamtib dengan menyebut nama sang kolonel tadi yang dia pungut tiba-tiba saja. Dia tidak tahu apakah nama itu ada di Satgas Intel Kopkamtib atau tidak. Yang jelas, dia yakin mustahil petugas menara akan menanyakannya ke sana.
Begitu usai menelepon dari kantor, Panda melihat suasana redaksi mencekam. Teman-temannya merubung Panda saat menelepon atas nama Kolonel Sofyan. Setelah gagang telepon diturup, dia berteriak keras.
“Headline sudah dapat!!!”.
Takut ada telepon dari Pusat Penerangan ABRI atau Kopkamtib yang melarang berita pembajakan tersebut — yang sudah biasa terjadi di era Orde Baru — redaksi minta pemimpin redaksi termasuk redaktur halaman, segera meninggalkan kantor. Kalau ada telepon, jawabannya sederhana.
“Di kantor tinggal tukang sapu dan penjaga kantor dan mengaku tidak tahu soal berita,” tulis Panda Nababan pada halaman 231 bukunya yang berjudul “Jurnalisme Investigatif Panda Nababan MENEMBUS FAKTA, Autobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan”. (Makassar, 10 Agustus 2025).












