Kenakalan Wartawan dalam Memperoleh Informasi

Wartawan
KM Tampomas II tenggelam di Perairan Masalembo, 1981.

Kenakalan Panda pun muncul. Lembaran untuk Menteri Perthubungan, dia tarik dari map. Dia melipatnya dan memasukkannya ke dalam baju di tengah Fanny mengemudi mobil dengan penuh konsentrasi dalam kecepatan relatif tinggi.

Tiba di Jl. Cendana, Panda turun untuk menunggu mobil redaksi SH yang datang menjemput. Dia melihat Fanny tergopoh-gopoh keluar dari rumah Soeharto dan menuju mobilnya.

Agaknya mencari sesuatu yang tertinggal. Dibantu petugas Pampres menggunakan senter menyorot tempat duduk keduanya.

“Apakah lu lihat kertas yang jatuh. Isi map satu kosong. Tidak ada isinya,” kata Fanny.
“Mana tahu saya? Jangan-jangan sekretaris Anda lupa meletakkannya,” sahut Panda yang tahu barang nan dicari itu ada di balik bajunya.
Fanny terlihat panik. Dengan terlihat putus asa karena apa yang dicarinya tidak ada, dia kembali masuk ke kediaman Soeharto.

Panda berjalan kaki beberapa ratus meter untuk mencari taksi karena mobil redaksi tak kunjung muncul. Di atas taksi saat lampu jalan terang benderang, dia mencabut kertas dari balik bajunya. Dia terperangah. Laporan di tangannya bersifat rahasia. Tapi sangat penting diketahui oleh masyarakat.

BACA JUGA:  PERLUNYA MENATA KEMBALI LORONG WISATA

Selang beberapa jam kemudian, Fanny menelepon,
“Gila lu, Pan, ‘ngerjain’ gue. Itu berkas yang mau gue kasih ke Presiden dan Menteri, malah lu tilep. Cepat kembalikan,” kata Fanny marah-marah.
“Tenang, Fan, sekarang juga gue ‘balikin’,” tangkis Panda dan gara-gara penilepan berkas Tampomas II ini hubungan keduanya sempat merenggang. Dari berkas itulah SH unggul dalam pemberitaan awal terbakarnya Tampomas II.

(Saya sempat mewawancarai Nakhoda KM Tampomas II Capt. Rivai bersama almarhumah Kak Zohra Andi Baso di kamarnya dalam pelayaran Ujungpandang-Jakarta, November 1980.

Saat saya minta foto bertiga usai mencicipi ‘pisang epek’ yang disajikan kepada kami, Capt. Rivai menolak. Mungkin tak enak dengan kami, akhirnya dilayaninya.

Dia duduk di tengah di sofa kamarnya. Kisah wawancara disertai foto kami bertiga ini, saya muat di “Pedoman Rakyat” setelah KM Tampomas II tenggelam dan sekembali dari mengikuti Porseni Mahasiswa di Manado, 31 Januari 1981).

Pembajakan Woyla

Panda Nababan sempat tidak percaya tentang pembajakan pesawat Garuda Woyla ini. Soalnya, sumbernya dari Steve Rompas, yang wartawan olahraga.

BACA JUGA:  Perjalanan Menuju Kampus Ilmu

Mak Karundeng, Wapemred SH pun menjelaskan kronologisnya. Kata dia, Steve Rompas sedang mengikuti rapat pengurus karate yang juga dihadiri Leo Lopulisa, Pangkostrad kala itu dan Soegiri, Dirjen Perhubungan Udara.

“Ada pembajakan pesawat,” bisik Soegiri kepada Leo Lopulisa saat pamit dan Steve Rompas sempat mendengarnya. Panda pun percaya. Ini A-1, kualifikasi sangat dapat dipercaya.

Satu tim yang terdiri atas reporter yang bertugas pada instansi terkait, seperti di kantor Garuda, Hankam, Kopkamtib, dan Kepolisian, dikerahkan untuk mengendus informasi. Seluruh reporter melaporkan, hasilnya nol. Tidak ada informasi mengenai pembajakan itu. Semua informasi tertutup.

Panda yang berpengalaman membongkar manipulasi di Bandara Halim Perdanakusumah tidak kehabisan akal. Di bandara ini ada menara pengatur lalu lintas perhubungan udara, Jakarta Tower. Nomor teleponnya dengan mudah dia dapat.

“Halo, di sini Kolonel Sofyan dari Satgas Intel Kopkamtib. Catat nomor telepon saya. Ini nomornya,” kata Panda sambil menyebut nomor telepon di Markas Kopkamtib di Jalan Medan Merdeka Barat.

“Siapa yang bertugas di situ? Saya ingin tahu informasi perkembangan pesawat yang dibajak. Posisi pesawat sekarang di mana?,” seru Panda dari balik telepon dan petugas menara yang mendengar kata-kata Satgas Intel Kopkamtib tak lagi tanya dan langsung memberikan informasi perkembangan peristiwa pembajakan itu.