Kemenangan Zohran Mamdani dan Doa Al Fatihah Imam Shamsi Ali

Dalam kerangka itu, keberhasilan Zohran Mamdani menjadi metamorfosis kondisi: dari “sistem lama” ke “kesempatan baru”, dari “politik yang terpinggirkan” ke “politik yang mengakomodasi”.

Di sini, Al-Fatiha menjadi metafora: pembuka jalan, doa untuk taufik dan petunjuk, permohonan agar setiap niat baik bisa dipenuhi oleh kuasa Yang Mahaberkah.

Bayangkan ketika setelah kemenangan politik diumumkan, komunitas Muslim – imigran yang turut mendukung – berkumpul dalam doa. Imam Shamsi Ali mengajak mereka: “Mari kita mulai dengan bacaan Al-Fatiha.” Ada tempat di mana kemenangan politik berjumpa dengan kemenangan spiritual. Ada saat di mana perubahan struktural berakar pada perubahan hati.

Narasi ini juga mengajak kita merenung: bahwa kemenangan seseorang — atau kemenangan sebuah gerakan — tidak lahir dari vacuum. Ia lahir dari pengorbanan, dari tantangan, dari menolak diam ketika yang benar tak dilakukan.

Mamdani telah menegaskan bahwa masalah pemilikan rumah, hak warga, kesenjangan sosial bukanlah takdir alamiah, melainkan pilihan politik.

Namun, kemenangan itu tak menjamin mudahnya jalan: bahkan sebelum kemenangan resmi diraih, tekanan, stereotip, dan serangan terhadap latar belakangnya muncul.

BACA JUGA:  SEMESTA JURNALISME: DARI GUTENBERG HINGGA ZUCKERBERG

Dan di sinilah doa menjadi penguat: ketika kekuatan manusia terbatas, doa menghubungkan dengan yang Maha Kuasa. Dan Al-Fatiha menjadi pengingat bahwa kita bergantung bukan hanya pada strategi kita, tetapi pada Rahmat dan Pertolongan-Nya.
Imam Shamsi Ali yang saya kenal, dalam berbagai ceramahnya menghubungkan ibadah, dzikir, dan perubahan sosial. Ia menekankan bahwa “puasa itu kunci terkabulnya doa” karena melalui pengekangan diri manusia dekat dengan Yang Maha Dekat.

Jika demikian, maka perubahan politik atau sosial pun hendaknya dikawal oleh perubahan dalam jiwa – rendah hati, cinta pada keadilan, komitmen pada kemanusiaan.

Maka, kemenangan Mamdani bukan hanya isu “seorang Muslim jadi pemimpin” atau “komunitas imigran terwakili” — melainkan bukti bahwa masyarakat bisa memilih arah baru: arah yang menolak status quo kekerasan ekonomi, penindasan struktural, dan alienasi warga. Ketika kelompok yang selama ini diam terlibat aktif, maka pintu perubahan terbuka. Dan ketika doa menjadi bagian dari perubahan itu, maka ia punya kedalaman makna.

Di akhir narasi ini, kita kembali pada Al-Fatiha: surat yang dibaca oleh setiap Muslim dalam salatnya, sebagai pembuka, sebagai petunjuk. Kita bisa mengambil tiga pelajaran dari situ:

BACA JUGA:  Catatan Reflektif HPN 2026, Menguatkan Peran Pers Lokal di Era Disrupsi Digital

1. Awal dengan kesadaran bahwa segala puji bagi Allah — setiap langkah perubahan harus selalu diiringi rasa syukur dan pengakuan, bukan kesombongan.

2. Meminta petunjuk kepada jalan yang lurus — perubahan sosial politik bukan sekadar menang atau kalah, tetapi menuju keadilan dan kesejahteraan bersama.

3. Memohon supaya kita dijauhkan dari jalan yang dimurkai dan sesat — agar kemenangan tidak berbalik menjadi penindasan baru, agar pemerintahan baru tidak melupakan warga yang lemah.

Maka, jangan lupa membaca Al Fatihah mengawali semua kegiatan kita.

Makassar, 5 November 2025