JANJI KAMPANYE YANG MENYULITKAN PEMERINTAHAN BARU

Kisah Donald Trump 2025 dan Dunia yang Saling Terkait

Kebijakan itu memoles patriotisme, namun menebar luka di tubuh ekonomi dunia.

-000-

Janji kampanye adalah alat. Di tangan Trump, alat itu menjadi pedang. Ia mengayunkannya dengan retorika membakar:

“Cina telah memperkosa ekonomi Amerika. Di masa jabatan saya, tak akan ada lagi!”

Sorak massa menggema di stadion-stadion. Namun ketika pedang itu benar-benar ditebas ke tubuh ekonomi global, darahnya justru membasahi kaki Amerika sendiri.

Industri baja mungkin tersenyum sejenak. Beberapa manufaktur kecil terlindungi. Tapi gelombang balasan dari dunia tak bisa dibendung:

• Harga barang konsumen Amerika naik.
• Produsen lokal terpukul oleh mahalnya bahan baku.
• Inflasi melonjak.
• Bank sentral bingung mengatur suku bunga.
• Kepercayaan mitra dagang terhadap Amerika runtuh.

Ekspor pertanian AS turun drastis. Pasar Cina lenyap. Petani kehilangan $27 miliar. Sektor manufaktur kehilangan 1,4% pekerjaan. Pasar saham anjlok $4 triliun. Rata-rata rumah tangga kehilangan $1.900 per tahun akibat penurunan pendapatan riil.

Bukan karena Trump ingkar janji. Ia justru konsisten.

BACA JUGA:  Nasrul dan Hikayat di Balik Buku M Hidayat

Yang salah adalah isi janjinya.

Amerika membayar mahal untuk ilusi kedaulatan ekonomi yang rapuh di hadapan realitas global. Dunia hari ini bukan benteng abad pertengahan. Ia adalah jaringan transparan.

-000-

Filosofi dari kisah ini sederhana namun mendalam:

Janji politik bukan sekadar retorika kemenangan. Ia adalah benih realitas. Bila bibitnya busuk, pohonnya akan meracuni masa depan.

Tiga hal perlu dicamkan ketika merealisasikan janji kampanye:

1. Janji menentukan arah sejarah. Jika janji dibuat demi suara, bukan demi solusi, ia menjadi bom waktu kebijakan publik.

2. Keberanian mengubah janji bisa menjadi kebajikan. Tak semua janji harus ditepati jika realitas telah berubah. Justru pemimpin sejati tahu kapan harus menyesuaikan arah.

3. Dunia saling terhubung. Satu janji nasional bisa mengguncang sistem internasional. Dalam era keterkaitan, janji yang salah bisa menjerat banyak bangsa.

-000-

Trump bukan satu-satunya contoh.

Lihatlah Inggris.

Pada 2016, rakyat Inggris diajak memilih: tetap bersama Uni Eropa atau keluar. Kampanye Leave menang dengan dua janji kuat:

BACA JUGA:  Tren "Unlock Your Potential", Antara Manfaat dan Tantangan

“Take back control!” dan “£350 juta per minggu untuk NHS.” Slogan “Take back control!” berarti rakyat Inggris ingin kembali berkuasa atas negaranya, bukan Uni Eropa.

Sedangkan “£350 juta per minggu untuk NHS” menjanjikan uang yang tadinya ke Uni Eropa akan dipakai untuk layanan kesehatan Inggris. Slogan ini emosional dan mudah dipercaya.

Setelah Brexit terjadi, fakta bicara. Inggris tetap harus mengikuti sebagian aturan Uni Eropa demi berdagang.