HOBI ITU BENAR-BENAR TENGGELAM

Akhirnya, saya memutuskan untuk bekerja sebagai kuli bangunan hanya demi mendapatkan sepatu bola. Padahal, saat itu saya sudah memiliki lima pasang sepatu bola. Sepatu-sepatu itu adalah hasil dari saya menabung, mengikuti pertandingan antar kecamatan, bahkan ada yang berasal dari pertandingan tingkat kabupaten. Sebuah kebanggaan tersendiri dengan memiliki sejumlah koleksi sepatu bola.

Suatu hari, ketika saya memutuskan untuk mudik ke kampung halaman di Gorom, Maluku. Saya bersekolah di Fakfak Papua Barat, jadi jarang pulang kampung. Saat tiba di rumah, mama saya kaget melihat isi koper saya. Pakaian yang saya bawa, semuanya berbau bola. Mama saya bertanya dengan heran, “Tidak ada baju lain? Kenapa baju dan celana bola semua?” Saya hanya menjawab, “Iya Ma, hanya itu yang saya punya untuk sehari-hari.”

Mama saya kemudian melihat juga sepatu bola yang saya bawa. “Kenapa sepatu bola dibawa? Memangnya bisa dipakai ke acara?” tanya mama lagi. Saya menjawab dengan santai, “Saya bawa sepatu bola supaya bisa main bola di sore hari. Perlu diketahui bahwa di kampung saya sudah ada lapangan bola sejak nenek moyang karena rata-rata orang disana hobi main bola.”

BACA JUGA:  Jejak Pertemuan di Puncak Bogor Jawa Barat

Mama saya tampaknya tidak habis pikir. “Sepertinya kalau kamu pulang nanti ke Fakfak Papua, lebih baik saya belikan memang baju sehari-hari dan sepatu biasa dari sini. Karena kalau kau dikasih uang, pasti yang kau beli baju bola dan sepatu bola lagi,” ujarnya. Saya hanya tersenyum mendengar perkataan mama saya itu. dan ternyata benar 3 hari rencana sebelum kembali ke fakfak saya dibawa ke kataloka kota kecamatan disana saya dibelikan celana, baju, dan sepatu yang bisa dipakai kemana saja dan sepatu sekolah yang tidak berbau bola.

Waktu berlalu, dan kebiasaan saya terhadap sepak bola pun perlahan-lahan hilang dari jiwa saya sejak pindah ke Makassar untuk melanjutkan kuliah. Kehidupan baru di kota besar ini membawa berbagai tuntutan dan kesibukan yang membuat saya semakin jauh dari bola. Semester demi semester berlalu, dan tanpa sadar, sepak bola yang dulu begitu melekat dalam hidup saya telah pergi begitu saja. Di tengah hiruk pikuk kota Makassar, saya tenggelam dalam lautan tugas dan aktivitas akademik, mengikis sedikit demi sedikit hasrat saya terhadap sepak bola yang pernah membara.

BACA JUGA:  Emil Yudianto, Profil Camat Pelestari Perkutut.

Di usia saya yang ke-37 tahun sekarang, hobi itu benar-benar hilang dari jiwa saya tanpa membekas bahkan nonton bola dilayar TV pun seperti tidak perna ada dalam kehidupan saya padahal wktu itu biar sampai tengah malam dan paginya tidur dikelas tidak peduli yang terpenting dapat menyaksikan club kebanggaan hingga tuntas. Dulu, sewaktu masih SMA, sepak bola adalah napas dan darah saya rutinitas saya saat itu adalah pagi ke sekolah, sore lari sebagai bagian dari menjaga fisik dengan topografi Fakfak yang didominasi oleh perbukitan dengan lereng terjal dan kondisi kemiringan lebih dari 40%. Ruas-ruas jalan di Fakfak lebih banyak tanjakan curam dan tanjakan landai, sangat mendukung penguatan stamina dalam mendukung hobi yang sudah melekat dalam hidup saya yaitu sepak bola. Kemudian malam ba’da magrib mengaji hingga sholat isya’, lalu belajar dan tidur. Kini, hobi sepak bola itu hanya tinggal kenangan manis, sebuah fragmen masa lalu yang kadang muncul di saat-saat saya menyaksikan anak-anak yang bermain bola di lapangan tana merah dekat rumah Kelurahan Parang Tambung Kota Makassar. Meski hobi itu tidak lagi menjadi bagian dari hidup saya, kenangan akan semangat dan kebahagiaan yang pernah saya rasakan di lapangan hijau tetap menjadi bagian berharga dari diri saya.