Hardiknas: Antara Seremoni dan Keberanian Mengoreksi Diri

Kedua, kesenjangan pendidikan harus ditangani secara serius, bukan hanya melalui retorika pemerataan. Ketiga, kurikulum perlu terus dikaji agar tidak sepenuhnya tunduk pada dominasi perspektif global tanpa mempertimbangkan konteks lokal.

Keempat, transparansi harus diperkuat melalui laporan pendidikan yang jujur dan terbuka kepada publik.

Pada akhirnya, pendidikan adalah proyek keindonesiaan yang belum selesai. Ia bukan sekadar sistem, melainkan proses panjang membentuk manusia Indonesia yang merdeka—dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Memperingati Hardiknas tanpa keberanian mengkritik hanya akan melanggengkan kemapanan.

Sebaliknya, kritik tanpa arah akan berujung pada pesimisme. Yang kita butuhkan adalah keterlibatan kritis: keberanian untuk mengakui capaian, sekaligus kejujuran untuk memperbaiki kekurangan.

Sebab esensi Hari Pendidikan Nasional bukanlah pada seremoni yang kita jalani setiap tahun, melainkan pada pertanyaan yang harus terus kita ajukan: sudahkah pendidikan kita benar-benar memanusiakan manusia?.***

BACA JUGA:  JOKOWI DAN PRABOWO: - Hubungan Unik dalam Politik Indonesia