Di meja teman yang ngajak ngopi duduk bersama seorang ibu, tampak ramah saya bertama kali ketemu dan lihatnya. Belum sempat saya duduk, si ibu itu berkata, “Ayo kita makan dulu, nanti balik lagi.” Saya mengangguk, meski agak bingung.
Tiba-tiba muncul seorang pria bertubuh besar. Wajahnya familiar. Oh, itu Pak anu mantan anggota DPD-RI, dia termasuk salah satu tokoh Sulawsi Selatan yang dikenal pada masanya, yang dulu sering saya lihat fotonya di spanduk menghiasi setiap sudut dan poros kota. Ternyata dia suami dari ibu itu. Dunia memang kecil, dan Allah pandai sekali mengatur pertemuan.
Tanpa banyak basa-basi, mereka mengajak kami makan malam bersama. Saya duduk di kursi depan bersama sang sopir, sementara si ibu, suami, dan teman saya di belakang. Dalam perjalanan singkat itu, si ibu menyebut nama saya. Dalam hati saya kenapa si ibu itu bisa tahu nama saya yang akrab dipanggil?, saya menduga sepertinya saya sudah diperkenalkan oleh teman saya padanya.
“Pak Maman, bagus kalau perjalanan bapak ini dibukukan.”
Saya menoleh, sedikit kaget tapi tersenyum. “Iye’, Bu. Bisa ji.”
Kalimat itu sederhana, tapi menancap dalam. Mungkin, tanpa sadar, saya memang sedang menulis perjalanan hidup bukan di kertas, tapi di langkah-langkah kecil sehari-hari.
Kami tiba di rumah makan di daerah Kumala. Tempatnya mewah, berlampu hangat, dan beraroma wangi rempah. Saya hanya memesan air mineral, karena perut sudah penuh sejak magrib tadi.
Sambil menunggu pesanan, saya izin ke belakang untuk shalat Isya. Tidak saya bilang pada siapa pun diantara kami, hanya berjalan ke belakang mendekati seorang pelayan minta petunjuk padanya, “Mbak, mushollanya di mana ya?”
“Di belakang, sebelah kanan, Pak.” Saya mengikuti petunjuk si Mbak itu lalu saya kebelakang.
Saya shalat dalam diam. Dalam sujud, saya berbisik,
“Ya Allah, jangan biarkan aku sibuk diceritakan orang, tapi lupa menceritakan Engkau.”
Ketika saya kembali ke meja, ternyata mereka sudah pindah ke meja yang lebih besar. Hidangan menumpuk di atasnya ayam bakar, bebek bakar, sayur, dan sejumlah menu lain memadati meja. Padahal kami hanya empat orang. Saya tersenyum dalam hati, mungkin beginilah hidup para pengusaha dan pejabat, rezekinya lapang, dan rasa syukurnya pun ditunjukkan dengan berbagi makanan.
Setelah makan, kami kembali ke warkop semula. Obrolan berlanjut, kali ini lebih serius. Tentang bisnis, omset, dan jaringan. Saya yang duduk diantara mereka memilih untuk diam mendengarkan. Ada kalanya diam lebih banyak bicara daripada kata-kata.












