Hanya Guru Mengaji di Lorong

Makan malam kami seperti reuni kecil. Suapan, tawa, dan obrolan ringan bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya, forum rapat dimulai. Ide-ide berseliweran, sebagian matang, sebagian masih mentah. Tapi semua keluar dari niat yang sama yakni ingin berbuat sesuatu untuk orang lain.

*_”Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera di hutan juga bekerja.”_* ~ Buya Hamka

Kalimat itu menempel di kepala. Saya ingin hidup bukan sebatas mengisi hari, tapi memberi arti.

Rapat selesai tepat ba’da Isya. ponsel saya bergetar lagi. Pesan dari seorang teman,

“Ayo, Pak Maman, ngopi di warkop teman saya.” Saya tersenyum. “Kenapa tidak?” pikir saya. Lagi pula, arah pulang sejalur.

Setelah semuanya usai, saya pamit lebih duluan. saya berjalan keluar menuju parkiran bersama dua teman. Beberapa pelayan melambaikan tangan. “Terima kasih, Kak Maman,” kata salah satu dari mereka.

Teman saya menimpali sambil tertawa, “Kau ini kayak anggota dewan, banyak yang kenal.” Saya ikut tertawa kecil. “Tidak mesti jadi dewan untuk dikenal. Mungkin mereka pernah ketemu saya,” jawab saya ringan. Dalam hati saya tahu, beberapa dari mereka dulu pernah belajar mengaji di lorong bersama saya.

BACA JUGA:  Ekspedisi K-Apel di Pangkep "Mengandung Bawang" (2)

Tempat saya belajar arti kesederhanaan, kesabaran, dan ketulusan yang tak pernah diminta tepuk tangan. *_”Jangan pernah berharap 1000 tepuk tangan untuk mu, karena akan berbahaya jika kamu tidak mendapatkan 1 tepuk tangan”_* ~ Rahman Rumaday

Di area parkir, seorang tukang parkir meniup peluit kecil memberi tanda siaga menjaga motor kami selama kami didalam. Saya berikan uang sepuluh ribu padanya.”

Tabe’, Pak, ini kembaliannya,” katanya sopan.
“Sudah, untuk dua motor sekalian ambil mi sisanya,” jawab saya.

Dia tertawa, tanda bahagia “Ubur-ubur ikan lele, terima kasih le’,” Dia berpantun

Saya ikut tertawa, “Bahayana jangan kasih ubur-ubur, nanti saya gatal bagaimana mi.”
Kami tertawa bersama. Kadang, humor sederhana seperti itu bisa jadi sedekah yang paling ringan.

Motor Beat merahku kembali menyala, menembus padatnya jalan melaju ke titik serlok, memenuhi ajakan teman untuk ngopi.

Di jalan, saya berpikir hidup ini seperti perjalanan malam. Kadang terang, kadang gelap. Tapi sejauh apa pun kita melangkah, selalu ada cahaya yang menunggu di ujung jalan.

BACA JUGA:  Sosok Si Abang Kumis Nursalam, Orang Bugis Toraja yang Ikut Nahkodai Rumah Besar Guru

Macet memang, tapi saya tak tergesa. Kadang kemacetan pun mengajari kita sabar. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sabar itu cahaya.”

Mungkin, cahaya itu tidak selalu datang dari langit, kadang dari lampu rem motor di depan kita.

Sekitar 12 menit kemudian, saya tiba di titik serlok yang dimaksud. seorang laki-laki kecil mendekat, “Parkir di dalam, Pak, biar aman.” Saya menuruti, lalu melihat kedalam teman saya melambaikan tangan dari jauh pertanda dia di meja itu. Di warkop itu, suasananya hidup, ramai, ada yang bernyanyi karaoke, ada yang bermain domino, ada pula yang tenggelam dalam layar gawai di antara asap rokok yang menari di udara. Suasananya seperti mozaik kehidupan riuh, tapi hangat.