Demo Anarkis: Menghancurkan Diri Sendiri

Bukankah ada banyak saluran lain yang lebih konstruktif? Dialog, diskusi publik, advokasi kebijakan, kampanye kreatif, hingga gerakan sosial berbasis komunitas bisa menjadi alternatif.

Demonstrasi seharusnya menjadi opsi terakhir, bukan pilihan pertama. Jika demonstrasi dilakukan, maka ia harus benar-benar terorganisir, damai, dan bermartabat. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi kerumunan tanpa arah, yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri.

Sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari demonstrasi besar-besaran.

Kadang, perubahan lahir dari konsistensi kerja kecil yang berkesinambungan.

Gerakan civil rights di Amerika Serikat, misalnya, tidak hanya mengandalkan demonstrasi, tetapi juga pendidikan, advokasi hukum, dan pengorganisasian komunitas.

Demikian pula gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan: demonstrasi hanyalah satu bagian dari strategi besar yang terukur. Artinya, tanpa strategi dan visi yang jelas, demonstrasi hanyalah letupan sesaat yang segera padam tanpa bekas.

Di Indonesia sendiri, kita masih bisa belajar dari sejarah. Demonstrasi 1998 berhasil bukan semata karena jumlah massa yang besar, tetapi karena ada kesadaran kolektif, ada visi bersama, dan ada konsistensi perjuangan.

BACA JUGA:  Hilangnya Anies Baswedan di Pilkada Jakarta 2024 dan Kisah 4 Presiden

Jika hari ini demonstrasi hanya dijadikan ajang memukul, membakar, atau sekadar ikut-ikutan, maka jelas arah itu sudah melenceng jauh. Kita seolah melupakan pelajaran sejarah, dan justru mengulang kesalahan dengan cara menghancurkan diri sendiri.

Lebih jauh, fenomena demonstrasi yang menghancurkan diri sendiri sebenarnya mencerminkan problem bangsa ini dalam mengelola perbedaan. Kita masih sulit membedakan antara lawan politik dan musuh pribadi.

Kita masih gampang terprovokasi oleh narasi hitam-putih. Kita belum terbiasa membangun dialog yang sehat. Maka, demonstrasi yang seharusnya menjadi kanal demokrasi justru berubah menjadi ruang benturan emosi.

Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Demonstrasi tidak boleh hanya dilihat sebagai ajang adu teriak, melainkan sebagai panggung moral.

Demonstrasi seharusnya membangkitkan simpati, bukan antipati. Demonstrasi seharusnya membuka jalan dialog, bukan menutupnya dengan kericuhan. Demonstrasi seharusnya menguatkan demokrasi, bukan melemahkannya.

Jika semua itu gagal diwujudkan, maka benar adanya: demonstrasi hanya akan menghancurkan diri sendiri.

Pada akhirnya, demonstrasi adalah cermin bangsa. Cara kita berdemo mencerminkan cara kita memandang diri sendiri. Jika kita berdemo dengan anarki, itu mencerminkan betapa rapuhnya moral kita. Jika kita berdemo dengan damai, itu menunjukkan kedewasaan kita dalam berdemokrasi.