4. Modal Sosial: mereka punya reputasi di tengah masyarakat.
Banyak yang dekat dengan pelanggan, guru, ibu rumah tangga, pekerja kantoran—menjadikan mereka jembatan sosial lintas kelas.
Momen konvoi AK menunjukkan: ketika ada ketidakadilan, komunitas ini bisa bergerak dengan cepat, masif, dan terorganisir—bahkan tanpa struktur formal.
-000-
Secara formal, ojol adalah bagian dari gig economy—pekerja lepas yang diikat kontrak fleksibel dengan perusahaan aplikasi.
Mereka bukan karyawan tetap, tidak punya jaminan sosial memadai, seringkali terjebak dalam algoritma yang tak memberi ruang tawar.
Namun, justru karena itu, komunitas ojol lebih mudah menyadari bahwa mereka membutuhkan solidaritas.
Mereka merasakan rapuhnya posisi tawar di hadapan perusahaan dan negara. Mereka tahu, satu-satunya kekuatan mereka adalah kebersamaan.
Kematian AK menjadi momen kristal: dari sekadar pekerja gig economy, mereka bertransformasi menjadi kekuatan sosial-politik.
Tidak disatukan oleh serikat resmi, tetapi oleh rasa senasib. Tidak dimotivasi oleh ideologi, tetapi oleh duka yang nyata.
Di sepanjang jalan, ribuan motor berbunyi serentak. Klakson bukan lagi tanda terburu-buru, tetapi tanda duka kolektif.
Bagi warga yang menyaksikan, konvoi itu adalah pemandangan haru: betapa kuatnya solidaritas kelas pekerja jalanan.
Namun, duka yang mendalam juga menyimpan potensi menjadi api. Api yang bisa membakar semangat perubahan, atau api yang bisa melahirkan amarah destruktif.
Di sinilah pentingnya pengelolaan solidaritas. Tanpa kanal formal, energi besar komunitas ojol bisa liar. Tetapi jika diarahkan dengan bijak, ia bisa menjadi kekuatan baru civil society yang memperkaya demokrasi Indonesia.
-000-
Di balik hiruk pikuk mesin motor dan layar smartphone, komunitas ojol menghidupkan kembali nilai kuno bangsa: gotong royong.
Gotong royong bukan lagi hanya membersihkan selokan kampung atau mendirikan rumah tetangga. Ia kini hadir di jalanan protokol Jakarta, dalam bentuk lautan jaket hijau yang mengawal satu jenazah.
Di era ketika masyarakat semakin individualis, ketika relasi sosial makin tergantikan oleh algoritma, komunitas ojol menunjukkan bahwa solidaritas masih mungkin hidup.
Bahkan, solidaritas bisa tumbuh justru di tengah sistem digital yang awalnya hanya dirancang untuk transaksi ekonomi.
Filosofinya jelas: teknologi boleh mengubah cara kita bekerja, tetapi tidak bisa memadamkan kebutuhan manusia untuk saling menjaga.
Dari jalanan macet yang bising, lahir wajah civil society baru—lebih cair, lebih digital, tetapi tetap berakar pada nilai paling tua: kebersamaan.
Jenazah AK kini sudah dimakamkan. Tanah merah menutup tubuhnya. Namun kisahnya tidak berhenti di liang lahat.
Di jalan raya, ribuan ojol yang mengiringinya telah menorehkan bab baru dalam sejarah civil society Indonesia.
Mereka menunjukkan bahwa komunitas pekerja digital bisa melahirkan solidaritas analog yang luar biasa.
Mereka membuktikan bahwa dari aplikasi yang awalnya hanya menghubungkan pengemudi dan pelanggan, bisa lahir komunitas yang menghubungkan manusia dengan manusia—dalam suka, duka, dan perjuangan.
Civil society baru bernama ojol telah lahir.
Dan mungkin, di masa depan, mereka salah satu pilar penting yang akan menjaga agar demokrasi Indonesia tetap bernyawa.***
Jakarta, 29 Agustus 2025
Referensi
• Manuel Castells, Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age, Polity Press, 2015.
• Juliet Schor, After the Gig: How the Sharing Economy Got Hijacked and How to Win It Back, University of California Press, 2020.












