Serasa Narasi Verbal: Catatan Kecil atas “Ana Makassar Basar di Ambon” Rusdin Tompo

Usai makan “patita” di samping Patung MCT saya ke penginapan di tengah kota. Pada malam hari, saya ke toko, tidak jauh dari pengunapan hendak membeli jarum. Pada toko yang pertama ketika menyampaikan maksud, saya menerima jawaban dari pemilik toko,”seng ada”. Saya mencoba pada toko kedua dan ketiga, jawabannya sama “seng ada”.

Menerima jawaban yang sama dari tiga toko yang berbeda, saya bertanya-tanya dalam hati.

“Mengapa mereka mengatakan “seng ada?”.

Keesokan hari, Wim Pattikawa, wartawan Harian “Pedoman Rakyat” di Ambon, saya ceritakan pengalaman ini. Barulah saya maklum bahwa “seng ada” berarti “tidak ada”. Saya kemudian sadar bahwa para penjual tidak akan pernah atau tabu menjual jarum pada malam hari.

Wacana Verbal

Membaca buku Rusdin Tompo ini — meskipun baru sebagian kecil — saya merasa bagaikan sedang mendengar cerita verbal (lisan) seorang narator yang bertutur tentang pengalamannya. Kisah-kisah di dalam buku ini jika dibaca, para pendengar akan terbawa ke tengah suasana “Ambon banget”. Kita membayangkan sedang berada di tengah komunitas masyarakat Ambon dengan dialek khasnya yang sudah sangat populer.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (6): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Jadi, kalau membaca buku ini secara psikologis kita harus mampu mengubah rasa emosional melebur dan larut dalam nuansa Ambon yang kental. Hanya saja, penulis tidak menawarkan kisahnya yang bersifat anekdotis dan bernada humoristik memanfaatkan dialek Ambon yang kental itu. Jika mampu menemukan sisi humor dari setiap kisah, di sinilah daya tarik cerita di dalam buku ini dengan kemasan dialek Ambon yang sudah sangat familiar dengan pembaca buku tanah air.

Saya mungkin lebih merasa nikmat mendengar permainan dialek Ambon jika Rusdin Tompo membaca isi karyanya. Sebab, ada nuansa yang berbeda di benak dan telinga pendengar saat menyimak intonasi pada kata-kata tertentu yang memberi kesan dan pemaknaan spesifik. Inilah yang menjadi kelebihan dialek Ambon yang saya rasakan selama ini. Entahlah kalau teman-teman yang lain.

Jika membandingkannya dengan dialek Betawi (Jakarta), dialek Ambon mungkin akan menempati petingkat kedua atau ketiga di Indonesia sebagai ragam bahasa yang paling menonjol dan populer digunakan oleh komunitas di wilayah geografi tertentu. Di Indonesia, selain kedua dialek itu, yang juga tidak kalah populer adalah dialek Batak/Medan dan Manado serta Makassar. Dialek-dialek tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

BACA JUGA:  Ady Setiawan Ikut Usung Keranda Ibunda Dahlan Abubakar

Dialek Ambon/Maluku sebenarnya menurut pendapat saya, jauh lebih kaya dan bervariasi. Dialek yang terdiri atas frasa atau diksi yang digunakan merupakan turunan dari kata-kata bahasa Melayu/Indonesia yang diberi ‘perlakuan’ tertentu. Secara linguistik, dialek Ambon/Maluku ini menarik diteliti. Banyak sekali variasi yang kita temukan sebagai penjelmaan bahasa Indonesia menjadi dialek Ambon.

Kita mencatat beberapa kata: misalnya kata /lai/ merupakan pelesapan konsonan akhir pada kata /lain/. ‘Katong’, merupakan akronim /kita orang/ yang mengalami perubahan bunyi fonem /i/ menjadi /a/ hingga menjadi /kat/ dari kata /kita/ yang dilesapkan fonen atau bunyi /a/. Lalu diambil /ong/ pada kata /orang/ yang ‘disingkirkan’ fonem/konsonen /r/ agar dapat membangun sebuah akronim /katong/.

Begitu juga dengan kata /dong/ yang merupakan akronim dari /dia orang/. /Dia/ hanya diambil konsonen /d/ dan /ong/ pada kata /orang/ yang konsonen /r/ ‘diasingkan’. Proses pembentukan akronim /dong/ ini prosesnya sama dengan pembentukan /katong/. Misalnya dalam kalimat “Namanya juga pedagang, ‘dong bajual’ ‘seng’ (tidak) jauh-jauh dari aktivitas pembeli.