Negara-negara kontributor utama antara lain Indonesia, Italia, India, Nepal, hingga Malaysia. Indonesia sendiri termasuk salah satu penyumbang pasukan terbesar dalam misi ini. Markas besar UNIFIL berada di Naqoura, Lebanon selatan, dengan area operasi yang mencakup wilayah antara Sungai Litani dan garis perbatasan dengan Israel. Hingga kini, mandat UNIFIL terus diperpanjang setiap tahun oleh Dewan Keamanan PBB, menandakan bahwa peran pasukan ini masih dianggap penting dalam menjaga stabilitas kawasan yang rentan konflik, meskipun Israel tetap membangkang dan bandel dengan melakukan penyerangan ke Lebanon selatan dan Gaza.
Setelah gugurnya tiga personel pasukan UNIFIL dari Indonesia itu, kini muncul pertanyaan. Mengapa justru personel TNI yang menjadi korban, padahal, terdapat 8.203 prajurit lain yang bertugas. Jika menilik 47 negara partisipan yang mengirim personel prajurit ke Lebanon, Indonesia termasuk negara yang dapat dikatakan sangat vokal mengutuk aksi negara zionis Israel menyerang Gaza dan Palestina selama ini.
Memang ada beberapa negara lain yang juga menentang agresi Israel ke Gaza dan Palestina, seperti Malaysia, dan Brunei Darussalam, namun tidak sekencang rakyat Indonesia mengutuk agresi Israel tersebut. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memang dianggap menjadi salah satu titik perhatian Israel secara senyap.
Tidak hanya itu, Indonesia pun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara zionis Israel. Walaupun tidak memiliki hubungan diplomatik, tetapi agen mata-mata Israel, Mossad, ditengarai beroperasi di Indonesia secara senyap. Dalam sebuah catatan Gordon Thomas di dalam bukunya berjudul “Gideon’s Spies” Sejarah Rahasia Mossad (Pustaka Primatama Jakarta, 2008), disebutkan keterlibatan seorang ‘katsa’ (perwira intelijen lapangan Mossad) yang berkedudukan di Surabaya yang melaporkan kasus penggerebekan teroris asal Malaysia dr.Azahari Husin yang ditembak mati di Kota Batu Malang 9 November 2005. Katsa itu mengungkapkan bahwa Noordin M.Top, sahabat Azahari, sehari sebelum penggerebekan sudah meninggalkan Kota Batu. Nurdin M.Top sendiri ditembak mati oleh Densus 88 dalam penyergapan di Kampung Kepohsari, Mojosongo, Jepres Solo, Jawa Tengah 17 September 2009.
Pengungkapan laporan Katsa Mossad di Surabaya ini justru langsung diterima kantor operasi Mossad di India yang kemudian menyampaikannya ke Kedubesnya di Singapura. Kalangan diplomatik negara pulau itulah yang boleh jadi membocorkan informasi ini hingga terungkap di dalam buku Gordon Thomas tersebut.
Jadi, tanpa menuduh dan menuding serta mendahului hasil investigasi pihak UNIFIL terhadap kasus gugurnya tiga anggota TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB tersebut, kita patut menduga dan curiga bahwa boleh jadi inilah salah satu pemicu mengapa personel TNI yang menjadi sasaran serangan tentara zionis Israel.
Padahal, banyak pasukan negara lain yang bertugas di Lebanon selatan. Israel sendiri menyangkal melakukannya, kemudian justru menyalahkan dan menuding pasukan Hezbullah yang melakukan penyerangan itu. Ini pun diamini sekutunya Amerika Serikat.
Kita patut berduka cita yang mendalam atas gugurnya ketiga pahlawan perdamaian dunia itu. Semoga saja ini merupakan korban yang terakhir yang menimpa personel pasukan UNIFIL di Lebanon selatan, lebih khusus lagi bagi prajurit kita tercinta, TNI yang bertugas menjaga perdamaian dunia di Lebanon selatan. (*).












