PKB & Opsen PKB

“Saya ke mana, Pak?,” kata saya setelah menerima STNK mobil.
“Ikut saja Bapak ini!,” kata petugas itu menyarankan saya mengikuti seorang lelaki berusia 40-an tahun mengenakan kaos dan celana gelap. Saya mengikutinya dari belakang menuju satu ruangan di belakang utama Samsat.

Ternyata di depan ruangan itu ada mesin pembuat plat yang mungkin sudah “pensiun”. Saya ikut masuk ke ruang itu kemudian menyerahkan cetakan selembar data kendaraan kepada petugas itu.

“Bapak boleh menunggu di luar!,” katanya, diikuti langkah saya meninggalkan ruangannya yang tampak penuh dengan plat kendaraan.

Memanfaatkan masa menunggu, saya tengok di sebelah utara ruang itu ada papan kecil bertulis “Kantin”. Lantaran hanya sempat menyikat lima biji pisang yang digoreng plus teh manis pukul 07.30 sajian istri, perut saya mulai keroncongan.
“Boleh pesan kopi susu?,” seru kecil saya yang ternyata penjaga kantin baru saja masuk dari luar.
“Ada kue, ya?,” sambung saya.
“Habis, Pak!,: jawabnya, sekaligus membiarkan perut saya bersabar menerima hidang kopi susu saja.
Kopi susu pun datang. Saya lihat, didominasi oleh warna hitam dan sedikit saja warna krem di dasarnya. Tidak ada kecurigaan apa-apa tentang rasa minuman itu.
Saya pun mengaduk-aduknya. Rasanya tidak terlalu panas, tetapi pahitnya menggigit. Saya pun menambah gula untuk meredakan pahit yang ada. Ternyata tidak mempan. Saya lupa tanya, kopi produksi dari mana, kok tidak mempan dengan gula?
Saya kembali ke mobil. Juru parkir yang dari tadi mengatur saya memarkir mobil tetap sedia di dekat mobil. Saya pun memberikan lagi Rp 5.000 sebagai ongkos parkir tanpa karcisnya yang jilid II.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (3): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Saya naik kendaraan, tiba-tiba terdengar kaca diketuk orang. Saya memperhatikan ke kaca sebelah kiri. Ada seorang anak perempuan yang menempel di kaca. Saya pun memberi kode ke sebelah kanan, di dekat kursi pengemudi. Soalnya, kaca sebelah kiri macet. Tidak bisa diturunkan.
Anak itu pun merapat ke kaca depan kanan. Saya menurunkan kaca.
“Kau masih sekolah?,” tanya saya.
“Iya, Om,” jawabnya, padahal sebenarnya dia harus menyapa “Kakek”. Ya, sudahlah.
“Kelas berapa?,” usut saya liagi.
“Kelas 4, Om,” balas bocah perempuan itu kemudian saya pun mengulurkan uang Rp 2.000 yang tersisa karena yang Rp 5.000 sudah dipakai membayar parkir kendaraan.
“Kanan..kanan.,” terdengar suara juru parkir yang baik hati itu memandu kendaraan saya di tengah laju kendaraan lain di jalan padat.

“Terima kasih, Puang!,” katanya lagi, kembali saya dapat gelar lalu menutup kaca mobil dan melaju, membelah padatnya lalu lintas Jl.Andi Pangerang Petta Rani.