NusantaraInsight, Makassar — Lelah dan capek menulis buku maraton selama hampir dua minggu di Jakarta, sambil berbaring di tempat tidur, saya iseng menonton cerita-cerita di media sosial.
Ada dua cuitan yang saya rasa menarik dikomentari. Secara logika kedua cuitan itu dapat diterima nalar. Hanya saja selama ini belum ada yang menyinggungnya. Padahal, kasus yang dipersoalkan itu sudah berlangsung lama.
Cuitan pertama menyinggung soal hilal yang selalu digunakan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menetapkan awal dan akhir Ramadan.
Ritual pengamatan hilal yang dilakukan tersebut, menurut media sosial tersebut dan rasanya benar juga menurut saya, tidak lebih sebuah proyek tahunan yang sebenarnya tidak perlu.
Bayangkan saja, setiap daerah atau beberapa daerah tertentu harus melihat hilal di tiap daerahnya menggunakan teropong.
Yang aneh, yang mengintip di balik teropong tersebut orang-orang yang sudah terbulang sepuh — karena ingin didengar kesaksian hilalnya — yang pandangannya sangat mungkin sudah berkurang.
Lantas yang terasa aneh, kata si pembuat cuitan itu, peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan, satu tahun sebelumnya sudah diketahui. Itu tidak hanya hari, tanggal, dan bulan serta tahun akan terjadi, tetapi juga sampai pada waktu kejadiannya. Lengkap dengan menit hingga detik. Mengapa penetapan hilal yang berlangsung tiap tahun, tidak bisa ditetapkan seperti para ahli menetapkan terjadinya gerhana itu?
Penetapan hilal ini selalu menimbulkan kontroversi yakni antara Muhammadiyah dan versi pemerintah. Biasanya Muhammadiyah selalu cepat sehari memulai ibadah puasa Ramadan.
Yang lucu, pada saat Idul Fitri, kerap dua versi berlangsung pada hari yang sama. Mengapa itu terjadi. Tudingan pun muncul. Biasanya yang membela Muhammadiyah mengatakan, jumlah hari puasa pas sekian hari. Lalu yang versi pemerintah, menyebut puasa tahun ini hanya sekian hari untuk tidak mengatakan puasanya kurang.
Yang lucu, ketika puasa sudah memasuki hari ketiga atau keempat, orang pun mulai menyebut bahwa kelompok ini yang sesuai dan ini yang tidak sesuai awal Ramadan. Hal itu karena mereka melihat posisi bulan di langit yang sudah tinggi.
Perbedaan-perbedaan seperti ini sepertinya “dipelihara” supaya kegiatan tetap ada. Sebab, persoalannya, penetapan awal puasa memang sering berbeda, tetapi buntutnya sama. Ya itu tadi, pelaksanaan Idul Fitri berlangsung pada hari dan tanggal yang sama.
Siapa yang punya?
Cuitan kedua ini membuat saya tersenyum. Pasalnya, pembuat cuitan mengatakan, dengan perbedaan awal Ramadan jelas akan berpengaruh terhadap ganjil genap hari puasa selama Ramadan.












