AAA Arina Saraswati, Perempuan Ayu yang Mau Urus Sampah

Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M
Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M

“Ini baru dimulai. Kalau dilatih orang per orang, sangat melelahkan. Jadi lebih baik misalnya dalam satu keluarga atau mengumpulkan mereka yang tokoh-tokoh yang mau belajar. Tidak penting mereka, mau yang punya jabatan, asal mau belajar dan bisa memberikan pelatihan di TP-an itu. Minimal 5 orang dilatih sampai mereka paham dan itu dipantau melalui WA grup bagaimana hasilnya setiap hari hasil kompos tersebut,” sebut Arina.

Dia mengakui masih melakukan “trial and erros” (masih mencoba-coba) mengolah sampah sendiri di rumah tangga. Permasalahan utama sampah itu, ya bau. Susah diolah dan oleh sebab itu, dibutuhkan biobakteri. Masalah terbesar dari sampah itu adalah biobakteri.

Arina mengatakan, saat kompos sudah jadi, kita buatkan saja taman di rumah sehingga melahirkan tanaman buah dalam pot (tabulampot). Kita buatkan saja misalnya tomat dan begitu berbuah kita dapat buah segar. Organik pula, keluarga pun sehat.

“Ini sebenarnya saduran dari pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK). Dulu, kan rumah sehat harus halamannya luas, sekarang sudah dipindahkan ke pot. Nanti tanamannya dimanfaatkan di pot itu. Sudah ada contohnya, sehingga saya berani berbicara,” beber Arina.

BACA JUGA:  Dari Autobiografi Yusril Ihza Mahendra: Hampir Teken Petisi 50

Menghasilkan biobakteri itu memang sangat lama. Dalam waktu 1-2 bulan, belum tentu dia menjadi kompos. Kompos yang ada setengah jadi, belum menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tanaman. Jadi itu ada namanya pematangan kompos setengah jadi itu memerlukan waktu sepuluh hari. Ini prosesnya agak lama. Bukan dari hulu ke hilir, melainkan dari hilir ke hulu. Di hulu diajarkan pelatihan. Begitu jadi kompos setengah jadi, kita bawa ke hilir.

“Diberikan pelatihan mengelola sampah, menjadi kompos setengah jadi, kalau di rumah sudah penuh, ini yang sedang dipikirkan untuk membeli mesin yang bisa membuat kompos yang jadi awal dan saya bekerja sama dengan konstituen yang dulu. Dia punya kebun di daerah Tegalalan. Diminta tanahnya untuk jadi “korban” sebagai demonstrasi plot (demplot) dan menggunakan pupuk kompos ini,” sebut Arina panjang lebar.

Prosesnya memang sangat panjang, kata Arina, tapi kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi. Untuk membuat kompos setengah jadi itulah, Arina berniat membeli mesin. Caranya supaya masyarakat tidak malas lagi, kalau itu masih berupa sampah basah organik yang belum terurai akan diambil, diurus dulu. Baru diambil kompos setengah jadi. Itulah cara mengedukasi, dan tidak semudah itu.

BACA JUGA:  Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

“Masyarakat itu biasanya setelah ada hasil baru mau ikut, begitu,” ujar Ketua Badan Pemberdayaan UMKM dan Koperasi DPD Partai Golkar Bali 2025 – 2030 dan Ketua Bidang Kemitraan Ikaboga Prov. Bali 2025 – 2030 tersebut.