Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
“Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!” Itu pesan Bung Karno–Bapak Bangsa, Proklamator, dan Presiden RI ke-1.
NusantaraInsight, Makassar — Semboyan yang biasa disingkat Jasmerah itu, diucapkan Ir Soekarno dalam pidato peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-21, tanggal 17 Agustus 1966, yang merupakan pidato terakhirnya.
Kalimat jelas dan tegas ini hendak mengingatkan kita betapa pentingnya arsip sejarah. Mengingat sejarah bukan sebatas nostalgia dan romantisme.
Arsip sebagai bukti sejarah merupakan fondasi identitas bangsa yang tidak boleh diabaikan jika ingin maju dan jadi bangsa yang besar.
Arsip merupakan sumber sejarah primer yang autentik dan terpercaya. Ia merupakan bukti konkret, memori kolektif, dan bahan penelitian sejarah.
Lewat foto-foto, dokumen, catatan dan tulisan, serta kliping surat kabar di masanya, arsip dapat menjadi sumber informasi, yang terkonfirmasi dan valid.
*Dari Gorontalo untuk Indonesia*
Dalam konteks inilah kehadiran buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja (2025), yang ditulis Dr Basri Amin relevan untuk diketengahkan.
Buku setebal lxi+435 ini merupakan biografi gagasan dan kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia bersatu.
HM Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI (2004-2009; 2014-2019) dalam komentarnya pada bagian back cover mengatakan, “Buku ini membantu kita mengetahui lebih baik tentang tentang praktik-praktik kepemimpinan nasional, meskipun lebih banyak dikerjakan di tingkat regional Sulawesi, bahkan di Gorontalo. Apa yang sangat terbukti adalah bahwa kerja-kerja politik nasional di Indonesia sejak awal selalu berjalan sejajar dengan tugas-tugas pemerdekaan bangsa dari kungkungan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan penjajahan.”
Buku ini harus diakui dikerjakan dengan telaten dan penuh dedikasi.
Ini bisa dicermati dari bagaimana penulis menelusuri arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone–seorang tokoh intelektual, jurnalis-pejuang, politikus, dan anggota dewan di masa NIT (Negara Indonesia Timur).
Daftar hadir dan posisi duduk Ajoeba Wartabone dalam Konferensi Denpasar, Desember 1946, yang kelak jadi cikal bakal lahirnya NIT bikinan Lt Gubernur Jenderal van Mook, pun tak luput ditampilkan.
Nomor kamar Ajoeba Wartabone di Hotel Bali juga terlacak dokumentasinya.
Ajoeba Wartabone lahir di Gorontalo, 11 Juni 1894, dari pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku.
Ajoeba Wartabone, menurut kesaksian Tutty Wartabone Gobel (hal ix-xi), salah seorang anggota keluarganya–begitu disegani oleh komunitas Minahasa, Arab, Cina, dan orang-orang politik di masa itu.












