Ahmad M Sewang, Seorang Intelektual Ulama

“Sekalipun kita berbeda paham, kita harus saling menghormati. Itulah yang dicontohkan oleh Radulullah,” imbuh Ahmad M Sewang.

Terkait bukunya “Rihlah ke Mancanegara”, dia menyampaikan bahwa buku itu merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah sahabat. Itu karena dia mesti merekonstruksi peristwa masa lalu yang kadang perlu bantuan informasi teman-temannya. Ada sebanyak 14 negara di 5 benua yang telah dikunjunginya.

“Bagi saya, riset ke Belanda merupakan millestone atau tonggak sejarah,” kenang Ahmad M Sewang tentang Negara Kincir Angin tersebut.

Prof Rasyid Masri, memuji Ahmad M Sewang sebagai intelektual ulama karena tulisan-tulisannya yang kritis. Diakui, tidak banyak yang punya kapasitas seperti beliau. Memang banyak ustaz tapi tidak banyak yang punya kecakapan menulis. Beliau mampu mengintegrasikan ilmu dan agama. Sehingga beliau merupakan cendekiawan yang sesungguhnya.

“Semangatnya patut ditiru karena setiap hari menulis. Padahal menulis, sekalipun berupa tulisan pendek tapi tetap memeras otak,” terang Prof Rasyid Masri.

Sejumlah tokoh memberikan apresiasi kepada Ahmad M Sewang, di antaranya Prof Nasir Siola dan Prof Hasyim Aidid, Dr M Dahlan Abubakar, Yudhistira Sukatanya dan Mahrus Andis. Hadir dalam acara itu, antara lain Prof Mustari Mustafa, Prof Muliati, Dr Fadli Andi Natsif dan sejumlah anggota SATUPENA Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:  Transaksi Perasaan

“Saya ingin menyampaikan selamat ulang tahun. Teruslah menulis. Karena satu peluru yang ditembakkan hanya bisa menembus satu kepala tapi satu tulisan bisa menembus beribu-ribu kepala,” kata Prof Syamsuduha kepada suaminya, Ahmad M Sewang, yang pada 11 Agustus 2023 genap berusia 71 tahun.

Di pengujung acara, Rusdin Tompo, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan menyampaikan, semangat Prof Ahmad M Sewang dalam menulis jadi bukti bahwa menulis tidak mengenal kata pensiun. (*)

 

Penulis: Rusdin Tompo (Koordinator Satupena Sulsel)