Sebelum mulai makan, saya refleks berkata, “Mba, minta tolong foto dulu.”
HP saya serahkan. Krak… krak… krak… bunyi kamera HP saya
“Tunggu dulu, saya stel kameranya biar bagus hasilnya,” kata si pelayan dengan serius.
“Pelayanan yang tulus selalu terlihat dari kesediaan memberi lebih, meski tak diminta.”
Hasil fotonya bagus. Saya tersenyum.
“Bagus ini pelayan. Sombere, betul-betul melayani. Tidak seperti pelayan pada umumnya,” kata saya.
“Iya, bagus tadi itu, berkumis lagi,” sambut Om Awing bercanda.
Saya menimpali pelan, “Kalau saya datang ke rumah makan atau kafe, bukan harganya yang saya lihat, tapi pelayanannya.’
“Rasa dihargai sering kali lebih mengenyangkan daripada makanan itu sendiri.”
Usai makan, kami masih duduk bercerita sejenak. Rumah makan siang itu ramai luar biasa, pengunjung silih berganti, bahkan sampai antre tempat duduk. Tidak seperti biasanya mungkin karena sudah mendekati akhir tahun.
Setelah itu kami beranjak ke Masjid Cheng Ho untuk shalat Dzuhur berjamaah. Masjid sudah relatif sepi; waktu Dzuhur lewat sekitar setengah jam. Tinggal satu-dua orang yang masih berdiam, melanjutkan istirahat setelah shalat.
“Kesunyian rumah ibadah sering kali lebih jujur daripada keramaiannya.”
Dari masjid, kami lanjut nongkrong sekitar satu jam di depan Kantor Camat Tamalate. Minum kelapa muda gula merah kata orang sih, ini kelapa mudanya enak, recommended. Kami duduk santai, meneguk perlahan, sesekali tertawa kecil. Tidak ada topik berat. Hanya obrolan ringan yang tidak perlu dicatat, tapi terasa cukup untuk disimpan di ingatan.
“Kadang yang paling kita butuhkan bukan tempat mewah, tapi waktu yang berjalan tanpa tergesa.”
Dari situ kami berpisah. Saya melanjutkan langkah ke Cafe Denbo Toddopuli, milik Prof. Dr. Muh. Asdar. Sore itu, tempat tersebut menjadi ruang belajar kelas Public Speaking yang diadakan oleh DPN PENBIS, menghadirkan coach nasional, Anas In Action. Ruangan terasa hidup, bukan hanya oleh suara materi, tapi oleh energi orang-orang yang datang dengan niat belajar.
“Berbicara bukan soal lantang atau tidak, tetapi soal kejujuran yang berani disampaikan.” ~ Anas In Action
Di tengah kelas yang sedang berlangsung, suara azan dari masjid terdengar jelas. Seolah menjadi pengingat lembut bahwa di antara semua upaya meningkatkan kapasitas diri, ada kewajiban yang tidak boleh ditunda. Saya mengangkat tangan kanan, memberi isyarat izin, lalu keluar ruangan untuk menunaikan sholat Ashar.
“Ilmu yang berkah tak pernah bertabrakan dengan ibadah.” ~ Imam Al-Ghazali
Usai sholat, saya tidak langsung kembali masuk. Saya duduk sejenak di depan pintu ruang pelatihan, menikmati jeda. Tidak lama, Bu Heny Ketua DPN PENBIS keluar menyusul. Disusul Pak Mul dan Bu Wanti. Tidak berselang lama, Prof. Asdar muncul dari lantai satu. Kami duduk bersama, berbincang ringan. Tepat di depan kami, ada meja kecil dengan lima piring es pisang ijo dan beberapa gelas air.












