“Perjalanan mengajarkan kita bahwa tujuan tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu didahului proses.”
Ternyata pak ardhy juga tiba kami tiba bersamaan. Saya dan Pak Ardhy baru saja mematikan mesin motor ketika mata langsung menangkap satu pemandangan yang sudah sangat akrab yakni motor Om Awing lebih dulu terparkir, lengkap dengan helmnya yang berstiker logo Palestina mengepal. Dari jauh saja saya sudah tahu, oh, om Awing sudah sampai. Ada benda-benda tertentu yang pelan-pelan menjadi penanda kehadiran seseorang tanpa perlu disapa.
“Kadang kita mengenal seseorang bukan dari wajahnya, tapi dari jejak kecil yang selalu ia tinggalkan.”
Motor kami diparkir bersebelahan, seolah sengaja dirapatkan. Tanpa banyak komando, langkah langsung tertuju ke box gabus berisi ikan laut yang tersusun, masih tampak segar. Tapi baru beberapa langkah, saya berhenti sebentar.
“Eh, tanya dulu Om Awing sudah pesan apa belum. Siapa tahu sudah pesan,” kata saya ke Pak Ardhy.
“Oh iya, tanya mi dulu Awing,” jawabnya sambil mengangguk.
Saya melangkah ke belakang. Di sana Om Awing sudah duduk santai di sebuah skat meja lesehan, tepat di tepi Danau Maccini Sombala. Duduknya tenang, seperti orang yang tidak sedang terburu-buru mengejar apa pun.
“Sudah pesan, Om?” tanya saya.
“Iya, sudah. Pesan maki’ sama Pak Ardhy,” jawabnya singkat, tapi jelas.
“Ada orang yang datang lebih awal bukan karena ingin didahulukan, tapi karena sudah terbiasa menghargai waktu.”
Saya kembali ke depan menemui Pak Ardhy yang masih berdiri dekat box ikan.
“Sudah mi pesan Om,” kata saya.
Barulah kami memilih ikan masing-masing. Saya memilih kakap ukuran sedang, sekitar 30 sentimeter.
“Pak, ikan kakap dibakar, di-mix saja parape sama rica-rica,” pinta saya. Pak Ardhy memilih gurame dibakar parappe.
Saya sempat bertanya ke pelayan, “Yang duduk di meja lesan paling ujung tadi pesan apa?”
“Temanta pesan ikan cepak, dimasak dan dibakar,” jawabnya.
Kami kembali ke belakang, bergabung dengan Om Awing. Menunggu pesanan datang, obrolan pun mengalir ringan tentang media, tentang Komunitas Anak Pelangi (K-apel), tentang hal-hal kecil yang kalau dipikir-pikir justru besar dampaknya. Tangan kami sesekali memetik daun kemangi yang tersaji di piring kosong. Ada kenikmatan sederhana di situ yaitu menunggu sambil berbagi cerita.
“Menunggu jadi terasa singkat ketika dilakukan bersama.”
Tidak lama, seorang pelayan perempuan datang membawa nampan berisi tiga piring kecil sambal dan tempat cuci tangan. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan nasi bakul dan semangkuk besar ikan masak pesanan Om Awing. Disusul lagi oleh pelayan lain yang membawa ikan bakar terbelah, menganga, harum asapnya langsung menyapa. Semua tersaji lengkap yakni racca mangga, lawi-lawi, daun kemangi, dan tomat.












