NusantaraInsight, Makassar – Atmosfer kehangatan menyelimuti Lantai 2 Best Western Plus Hotel, Jl. Bontolempangan No. 67 Makassar, saat puluhan warga asal Kolaka berkumpul dalam bingkai Halal Bi Halal (HBH) Keluarga Besar Kerukunan Keluarga Indonesia Kolaka (KKIK) Makassar.
Acara yang mengusung tema “Merajut Kasih Menjalin Persaudaraan dan Silaturahim dalam Ikatan Kasih HBH KKIK” berlangsung meriah pada Sabtu (25/4/2026) sore tersebut menjadi ajang pelepas rindu bagi para perantau yang kini menetap di Kota Daeng dan sekitarnya.
Ritual religius yang masih dibalut suasana Idul Fitri 1447 Hijriah ini dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang syahdu. Sesaat kemudian, Ketua Panitia, Hj. Nurfaidah Ambo Lau Al Aidal, naik ke podium untuk menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh warga Kolaka yang telah meluangkan waktu demi menyukseskan perhelatan penuh makna ini.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh keluarga besar KKIK yang hadir. Keberhasilan acara ini merupakan buah dari dukungan Ketua KKIK, Prof. H. Syamsul Bahri, serta partisipasi aktif bapak dan ibu sekalian. Besar harapan kami, kebersamaan seperti ini tidak hanya berhenti di momen lebaran saja, namun terus berlanjut di masa depan,” tutur istri dari Prof. Dr. Gagaring Pagalung, SE, MS, Ak, CA tersebut.
Dalam laporannya, Hj. Nurfaidah juga membeberkan potensi besar warga Kolaka di Makassar yang jumlahnya diperkirakan mencapai 300 orang. Ia pun menitipkan pesan agar jajaran pengurus KKIK lebih progresif dalam melakukan pendataan dan merangkul seluruh warga, sehingga setiap agenda organisasi ke depan dapat menghadirkan massa yang lebih besar dan solid.
Senada dengan itu, Ketua KKIK Prof. Syamsul Bahri dalam orasi budayanya menegaskan bahwa HBH bukan sekadar seremoni saling memaafkan. Baginya, momen ini adalah panggung krusial untuk memperkokoh tali silaturahmi bagi seluruh warga asal Bumi Mekongga yang sedang berjuang meniti nasib di wilayah Makassar dan daerah penyangganya.
“Di tanah rantau, silaturahmi adalah kekuatan utama kita sebagai sesama putra-putri Kolaka. Kita memiliki modal sosial yang sangat lengkap di Makassar; mulai dari kaum akademisi dengan deretan gelar profesor, pejabat pemerintahan, personel TNI dan Polri, legislator, hingga para pengusaha sukses yang berkontribusi bagi daerah,” tegasnya dengan penuh semangat.
Menilik potensi sumber daya yang begitu heterogen, Prof. Syamsul menekankan pentingnya peran pengurus KKIK sebagai “lem perekat” bagi seluruh warga. Tujuannya jelas: agar persatuan yang kokoh dapat terbangun, sehingga setiap warga bisa saling bahu-membahu dan menguatkan satu sama lain, baik dalam kondisi suka maupun saat menghadapi pahit getirnya kehidupan di perantauan.













