Pementasan ini menandai kedewasaan estetik Teater Lho Indonesia. Dari panggung rakyat menuju teater reflektif yang mampu menjembatani pemikiran global dan konteks lokal tanpa kehilangan akar spiritualnya.
XI. Lakon Fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya
Naskah: Alm. Max Arifin
Sutradara: R. Eko Wahono
Pentas: 17 November 2022, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB
Lakon ini adalah bentuk penghormatan R. Eko Wahono terhadap sahabatnya, (alm.) Max Arifin, seorang penulis naskah yang peka terhadap sejarah dan spiritualitas lokal. Fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya bukan sekadar lakon perang, melainkan tragedi tentang kekuasaan, cinta, dan kematian, yang seluruhnya berakar pada budaya Sasak.
Kisahnya bergulir dari konflik pribadi menuju peperangan besar. Lale Seruni — perempuan yang cantik dan keras hati — menjadi sebab dari pertikaian dua kerajaan. Suaminya, Demung Sandhubaya, dibunuh atas siasat Ki Harya Brangsoka, atas perintah Raja Mumbul. Kematian itu memantik perang antara Brang Bantun dan Mumbul.
Namun sebagaimana lazimnya tafsir Eko, tragedi ini bukan soal “perang” dalam arti fisik. Ia justru menyoroti peperangan dalam diri manusia — antara cinta dan ambisi, antara kesetiaan dan nafsu kekuasaan.
Pementasan dibuka dengan visual mayat-mayat tak dikenal di medan perang. Tubuh-tubuh tergeletak, tanpa nama, tanpa alasan. Lalu suara perempuan berdoa memecah sunyi: doa yang menggema dari dalam tubuh Lale Seruni, yang menunggu suaminya di perbatasan alam.
Sebagaimana judulnya, lakon ini disusun dalam bentuk fragmentasi: potongan-potongan peristiwa yang tak berurutan. Eko menciptakan struktur naratif yang melompat, mempertemukan masa lalu, kini, dan masa sesudah kematian dalam satu ruang waktu.
Ritme teater ini menyerupai ritual kematian. Musik gamelan dipukul perlahan, lalu berhenti tiba-tiba. Lampu menyala, padam, menyala lagi. Para aktor bergerak dalam tempo lambat, seolah diikat oleh roh para leluhur.
Eko tampak ingin mengembalikan teater pada fungsinya yang paling purba: sebagai doa dan peringatan. Ia menghadirkan dunia spiritual Sasak dalam bentuk modern, tanpa kehilangan kekhusyukan. Dalam satu wawancara ia berkata, “Teater tidak hanya untuk ditonton, tapi untuk didoakan.”
Fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya menegaskan keyakinan itu. Ia menjadi zikir panggung tentang kesetiaan dan pengkhianatan. Tentang tubuh yang mati, tapi maknanya tetap hidup di ruang penonton.
XII. Lakon Borka
Naskah dan Sutradara: R. Eko Wahono
Berdasarkan Cerpen “Belfegor” karya Kiki Sulistyo
Pentas: 31 Agustus 2024, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB












