Namun, sebagaimana ciri khas Eko dalam menafsir teks, “anak-anak” di sini tidak dimaknai secara sederhana. Mereka bukan sekadar tokoh polos yang bermain dalam cerita ringan, melainkan subjek filosofis kecil yang dihadapkan pada misteri kehilangan, ketakutan, dan keberanian untuk menghadapi yang tidak dikenal.
Kisahnya berangkat dari permainan sederhana: Te Seboq Siq Beboro — permainan sembunyi-sembunyian khas anak kampung. Namun permainan itu berubah menjadi tragedi kecil ketika salah satu dari mereka, Genta, menghilang. Tak seorang pun tahu ke mana ia pergi. Ia lenyap begitu saja, seolah ditelan bumi.
Yang tersisa hanyalah kegelisahan kolektif di antara teman-temannya. Mereka berusaha mencari, menebak, dan menuduh. Seseorang meyakini Genta disembunyikan oleh Beboro, sosok mitologis yang dalam imajinasi anak-anak kampung menjadi lambang ketakutan — seperti raksasa dalam dongeng, atau makhluk yang muncul dari kegelapan.
Namun Eko Wahono tidak sedang menciptakan horor anak-anak. Ia sedang menafsir ulang struktur mitos dan solidaritas sosial di tengah generasi yang tumbuh dengan rasa takut. Ketika anak-anak itu memukul kentungan, menggedor kaleng, dan berteriak di malam hari, kita tidak hanya melihat permainan, melainkan ritual pencarian diri — pencarian terhadap makna kebersamaan yang mulai pudar.
Genta adalah simbol dari “yang hilang” dalam kehidupan kita: ketulusan, keberanian, dan cinta yang jernih. Ketika sosok itu lenyap, dunia menjadi gaduh tapi kosong. Setiap anak mencoba memimpin pencarian, mengajukan pendapat, saling bersilang dan bertengkar. Dalam suasana itu, kita membaca sindiran halus Eko terhadap demokrasi semu di masyarakat: banyak bicara, sedikit mendengar.
Walau tergolong teater anak, penyutradaraan Eko Wahono tidak menurunkan kadar estetikanya. Ia menggarap lakon ini dengan struktur visual yang disiplin, menggunakan irama tubuh, permainan cahaya, dan musik kentungan yang berulang sebagai elemen dramatik.
Eko menjadikan anak-anak bukan objek tontonan, tetapi pelaku pengalaman estetik. Dalam latihan, ia membiarkan mereka berimprovisasi dengan bahasa tubuh, menciptakan bentuk “bermain yang serius”. Dari sinilah muncul kesegaran khas Teater Lho Indonesia — teater yang tidak menyepelekan anak-anak, tetapi justru mempercayakan kepada mereka makna terdalam dari kehilangan dan harapan.
Pada akhirnya, Te Seboq Siq Beboro tidak hanya menjadi lakon anak-anak. Ia adalah refleksi puitik tentang keberanian manusia kecil menghadapi gelap dunia. Tentang bagaimana rasa takut hanya bisa dikalahkan dengan cinta, dan bagaimana permainan sederhana menyimpan rahasia kemanusiaan yang besar.












