Haul ke-8 ini merupakan momen penting bagi keluarga besar Prof Rury. Suaminya, A. Riza Wawo, dan anaknya, A. Wirahman R. Wawo, hadir mengikuti acara dengan takzim.
Bagi Prof Rury, peninggalan terbesar almarhum bukanlah sebatas Gedung Perguruan Tinggi yang beliau dirikan. Bukan pula cagar budaya yang hari ini bisa kita saksikan dan nikmati di kampung halamannya, Batu-Batu.
Namun, jelas Prof Rury, warisan terbesar almarhum, yakni keyakinan bahwa kearifan merupakan pondasi mendasar bagi martabat manusia dan ilmu adalah amal yang manfaatnya dapat melampaui usia seseorang.
Maka, lanjutnya, meneruskan perjuangan almarhum bukan berarti mempertahankan semuanya persis seperti dahulu.
Meneruskan perjuangan berarti menjaga nilai yang beliau tanamkan, sambil berani membawanya menjawab zaman yang terus berubah.
*Kampung Budaya Wanua Ade’*
Prof Rury kemudian memperkenalkan salah satu konsep yang diberi nama Kampung Budaya Wanua Ade’, yang diharapkan bakal jadi sebuah ekosistem berkesinambungan dan berkelanjutan dalam menjawab tantangan zaman, dengan tetap mengakar pada nilai kearifan dan kebudayaan.
“Di sinilah makna tema kita, Meneladani Jejak Langkah Almarhum: Mengakar pada Kearifan, Berkibar dengan Ilmu Pengetahuan,” imbuh pakar hukum adat tersebut.
Alumni angkatan 1987 Fakultas Hukum Unhas itu lantas memaparkan bahwa mengakar berarti kita tidak boleh kehilangan jati diri. Kita harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan almarhum: kejujuran, pengabdian, kesederhanaan, kepedulian, penghormatan kepada ilmu, dan keberpihakan kepada pendidikan
Di sisi lain, kata dia, almarhum semasa hidupnya juga mengingatkan kita akan pentingnya ilmu pengetahuan. Ungkapan “berkibar dengan ilmu pengetahuan” mengandung cita-cita agar generasi yang ditinggalkan mampu tumbuh, maju, dan memberikan manfaat melalui ilmu.
Oleh karena itu, akar dan sayap harus berjalan bersama.
“Sebagai anak almarhum, saya menyadari bahwa menerima tongkat estafet ini bukanlah sebuah kehormatan semata. Ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” imbuh Prof. Rury.
Karena itu, katanya, dia tidak ingin sekadar meneruskan apa yang almarhum bangun hanya bermodalkan nama besar Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH, MH.
Namun, dia ingin meneruskannya dengan nilai-nilai yang almarhum tanamkan. Sebab nama dapat dikenang oleh waktu, tetapi nilai yang diamalkan akan terus hidup melalui generasi.
Katanya, ada satu hal yang semakin saya pahami setelah almarhum berpulang. Ketika orang tua masih hidup, kata dia, kita merasa memiliki tempat untuk bertanya.












