News  

Mengakar pada Kearifan, Berkibar dengan Ilmu Pengetahuan, Jadi Tema Haul ke-8 Andi Mustari Pide

“Di sinilah makna tema kita, Meneladani Jejak Langkah Almarhum: Mengakar pada Kearifan, Berkibar dengan Ilmu Pengetahuan,” imbuh pakar hukum adat tersebut.

Alumni angkatan 1987 Fakultas Hukum Unhas itu lantas memaparkan bahwa mengakar berarti kita tidak boleh kehilangan jati diri. Kita harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan almarhum: kejujuran, pengabdian, kesederhanaan, kepedulian, penghormatan kepada ilmu, dan keberpihakan kepada pendidikan

Di sisi lain, kata dia, almarhum semasa hidupnya juga mengingatkan kita akan pentingnya ilmu pengetahuan. Ungkapan “berkibar dengan ilmu pengetahuan” mengandung cita-cita agar generasi yang ditinggalkan mampu tumbuh, maju, dan memberikan manfaat melalui ilmu.
Oleh karena itu, akar dan sayap harus berjalan bersama.

“Sebagai anak almarhum, saya menyadari bahwa menerima tongkat estafet ini bukanlah sebuah kehormatan semata. Ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” imbuh Prof. Rury.

Karena itu, katanya, dia tidak ingin sekadar meneruskan apa yang almarhum bangun hanya bermodalkan nama besar Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH, MH.

BACA JUGA:  Tanggapi Tantangan El Nino Godzilla, Plt Dirut PDAM Makassar Kemukakan Komitmen Pelayanan 24 Jam

Namun, dia ingin meneruskannya dengan nilai-nilai yang almarhum tanamkan. Sebab nama dapat dikenang oleh waktu, tetapi nilai yang diamalkan akan terus hidup melalui generasi.

Katanya, ada satu hal yang semakin saya pahami setelah almarhum berpulang. Ketika orang tua masih hidup, kata dia, kita merasa memiliki tempat untuk bertanya.

Namun ketika orang tua telah tiada, maka kita menyadari bahwa banyak pertanyaan harus kita jawab sendiri dengan nilai-nilai yang dahulu almarhum tanamkan.

Kalimat-kalimat reflektif lantas dikemukakan oleh penggiat kebudayaan tersebut.

Katanya, setiap kali kita menghadapi persoalan, yang bisa kita lakukan, adalah bertanya dalam hati, apakah keputusan ini menjaga amanah yang almarhum titipkan? Apakah langkah ini memperbesar manfaat bagi sekitar?

Dilanjutkan, yang paling penting, kata dia, apakah keputusan ini kelak dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT?

“Barangkali itulah cara terbaik untuk tetap berdialog dengan seorang ayah yang telah mendahului kita. Bukan dengan menghadirkan kembali masa lalu, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilainya dalam setiap keputusan kita hari ini,” tandasnya.

BACA JUGA:  Pasca-Mubes XXIX, Dr. Basri Konsolidasi dengan Presiden dan BPPH Terpilih KMP UNM

Prof Rury kemudian mengajukan pertanyaan, seandainya, suatu hari nanti generasi setelah kita bertanya, “Apa yang kalian lakukan setelah pendiri berpulang?”

“Semoga saya dapat menjawab bahwa saya tidak membiarkan perjuangannya berhenti. Saya merawatnya, melestraikannya, mengembangkannya, dan mewariskannya dalam bentuk yang lebih baik kepada generasi berikutnya,” katanya dengan suara bergetar, menahan haru.

Prof Suriyaman Mustari Pide berharap, semoga ikhtiarnya itu menjadi bentuk bakti terbaik seorang anak kepada orang tuanya. Bukan sekadar memasang nama beliau di sebuah tempat. Namun membuat cita-cita almarhum ayahnya, Andi Mustari Pide, terus hidup melalui karya dan pengabdian.

Haul ke-8 ini dihadiri berbagai kalangan, antara lain Kapolsek Mario Riwawo dan Danramil Marioriwawo. Juga ibu-ibu dari majelis taklim, teman-teman SMP Prof Rury, dan teman kuliah angkatan 87 Fakultas Hukum Unhas.

Doa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an mewarnai sepanjang acara haul. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an, di awal acara, oleh Dra Wahidah, dan pembacaan surah Yasin oleh Hj.Samsu Duha, S.Sos. Sementara ceramah agama dan doa oleh dibawakan oleh Dr. HM Sabir, S, Ag, M.Sos.I.

BACA JUGA:  Milad Muhammadiyah ke-113, Bupati Sidrap Serukan Penguatan Kaderisasi

Keesokan harinya, datang pula sekira 500 murid-murid spiritual Andi Mustari Pide ke makamnya, untuk berziarah dan memanjatkan doa kepada almarhum. Mereka datang menumpangi bus dan berbagai jenis kendaraan pribadi. (*)